Dark Path
Apakah cinta selalu berarti memiliki seseorang itu seutuhnya? Aku mencintainya namun dengan cara yang berbeda. Dalam percintaan, kami tidak saling mengisi maupun melengkapi. Kami hanya mengungkapkannya dengan isyarat yang kadang tak kami mengerti. Apa perbedaan yang membuat semua begitu sulit?. Aku selalu berharap kami dapat berbagi. Aku juga berharap suatu hari nanti entah kapan itu aku dapat mengerti dia dengan segala hal yang membawaku kepadanya. Karena dia telah mengisi ruang dalam hatiku. Begitu pula aku berharap ia juga berusaha untuk mengerti diriku.
Sering kali ku merasa perbedaan yang harusnya membuat kami tak saling mengenal. Sikapnya yang dingin sering membuat masalah, berbeda dengan anak kebanyakan, itulah yang membuatku mengenal kesya. kesya tak sama seperti anak kebanyakan mungkin untuk sebagian orang akan menyebutnya dia sebagai keajaiban namun untuk sebagian lain akan menyebut dia sebagai kutukan. Sudah 2 minggu ini aku tak melihat kesya dia bahkan tidak masuk kuliah, dia juga sudah tidak datang ke tempat kosku, begitulah kesya datang dan pergi begitu saja. 20 Oktober 2016 malam ketika sedang bersama dengan melita di kamar, aku merasa udara dingin yang sedikit berbeda.
Aku menyusuri jendela mencoba menyingkap perasaan ingin tahu yang menyelubungiku pencarian pertama aku tidak menangkap apapun. Namun ketika aku hendak berbalik aku kembali merasa dingin. Kali ini kucoba menyusuri penglihatanku dengan seksama aku melihat sosok kesya disana. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menghampirinya. Sama seperti yang kuingat terahir kali aku melihat kesya duduk di kursi depan, kulit pucat dengan tatapan tajam.
“Hai” sapanya, aku diam tak menjawab menunggu ia akan memberi penjelasan meski aku tau itu mustahil.
“Apakah semuanya baik baik saja?” Tanyanya
“Semuanya selalu baik” jawabku dengan menatap dalam matanya berusaha mencari jawaban dari
pertanyaanku sendiri. Selama 15 menit kami saling bertatap mata.
“Tidurlah sepertinya kamu sudah lelah” katanya kemudian pergi.
Esok harinya aku kembali tak melihat kesya di kampus, tapi aku tidak bisa benar benar memastikan ia tidak ada disana karena aku tidak benar benar mencarinya aku bahkan tidak punya pikiran untuk mencarinya. Hingga siang seorang wanita yang bernampilam anggun menghampiriku.
“Ilham?” Tanyanya, aku membalas dengan anggukan.
“Ikut aku” perintahnya aku pun mengikuti, kami tiba di sebuah perkebunan kosong belakang kampus.
“Seberapa jauh kau mengenal kesya?” Tanyanya
Aku terdiam mencoba menelisik pertanyaannya
“Pilihlah jauhi kesya untuk kebaikanmu sendiri atau…” Ia memotong pembicaraanya
“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung
Dalam kebingunganku kesya beserta teman-temannya datang
“bella!” Panggil kesya, aku segera menoleh ke belakang. Aku tidak tau bagaimana tapi kurasa kesya beserta teman-temannya mengeluarkan ancaman dengan cara yang tidak aku mengerti. kesya menarik lenganku dan membawaku pergi.
Setelah hari itu aku sering bersama kesya mungkin hampir tiap hari, sering kali kesya mengajakku pergi bersama teman-temannya hal yang jarang kesya lakukan. Dan kesya mulai melakukan hal-hal yang kembali tak dapat aku mengerti. Aku ingin menanyakan tentang sosok wanita yang yang pernah mendatangiku pada kesya namun aku bingung harus mulai bicara bagaimana dengan kesya karena belakangan ini kesya mulai sangat sensitif dan pemarah.
Sosok wanita itu kembali mendatangiku.
“kesya telah mengambil jalan yang salah” ucapnya memulai pembicaraan, aku tak mengerti
“Ia telah bersama dengan orang-orang yang salah dan menyesatkan kesya”
“Bukan kau, tapi teman-teman kesya yang sekarang” lanjutnya
“Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?” Tanyaku
“Bersama teman-temanya kini dia telah menjadi seorang yang bukan dirinya”
“Apa yang terjadi pada kesya?
“Teman-teman kesya seorang bandar, dan dia…” Ia menghentikan ucapannya
“Harusnya kau lebih tau itu Ilham, perpisahan orangtuanya yang membuatnya salah mengambil jalan hidup”
“Siapa sebenarnya kamu?”
“Aku bella kakak kesya”
Ucapan bella siang itu bagai menjadi mimpi buruk untukku hingga kesya datang dan membangunkanku.
“kesya” panggilku terkejut
“Tadi bella menemuimu?” Tanyanya dengan wajah pucat pasi, aku mengangguk, ia memalingkan
wajahnya aku mendekat padanya dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku
“Apa yang dikatakan bella?”
Aku diam dan menggenggam tangannya
“Mereka sudah tidak menganggapku lagi, aku hanya butuh orang yang mengerti aku”
“Aku berharap kamu bisa mengerti Ilham”
Tanggal 1 November kesya makin tidak terkendali, dia sangat sering bersama teman–teman yang aku dengar dari Niko mereka termasuk kelompok pemasuk nark*ba di kampus kami, ini makin membuatku takut kesya akan menjadi seperti mereka. Banyak orang yang tahu tentang kelompok itu datang untuk memperingatiku namun ketika kesya tau ia makin menjadi. Saat ini aku dan kesya sedang bersama aku belajar untuk ujianku besok sedang kesya tiduran di kursi.
“Kau sudah jarang datang ke kampus?” Tanyaku
“Kupikir itu sudah tidak perlu” ucapnya ketika aku datang menghampirinya
“kesya apa kamu yakin kamu akan masuk kelompok teman-temanmu kini?” Mata kesya berubah
“Apa maksudmu?”
“Tidak bisakah kau tetap menjadi kesya?”
“Apa kamu akan seperti orang orang yang telah membuangku?”
Aku tak dapat mengungangkapkan apa yang kuinginan dari kesya, aku hanya membalas pertanyaannya dengan putus asa. Aku tetap berharap kesya akan mendapat hal yang terbaik.
Tanggal 21 Januari, sudah 1 bulan lebih aku tidak bertemu kesya. Kini sedikit demi sedikit aku mulai menemukan jawabanku tentang arti sebuah cinta. Terkadang mencintai adalah melakukan hal terbaik untuk orang yang kita cintai meski harus dengan pengorbanan.
“Kamu tau mereka berada dimana sekarang?” Tanyaku pada Niko
“Teman-teman kesya?”
Aku mengangguk, Niko memberiku sebuah alamat
“Apa yang akan kamu lakukan?” Aku diam karena aku juga tidak yakin akan apa yang akan aku lakukan.
Tepat jam 7 sore aku ketempat teman-teman kesya, salah satu diantara mereka membuka pintu
“Aku ingin bertemu kesya”
“Sepertinya bukan waktu yang tepat, aku akan memberitahu kesya agar ia menemuimu”
Laki-laki itu sepertinya mengenal aku
“Aku akan pergi malam ini jika tidak sekarang kami tidak akan bisa bertemu lagi” paksaku dengan berbohong kali ini aku berharap ia akan mengizinkanku masuk.
Dengan sangat terpaksa ahirnya ia mengizinkaku masuk. Meski baru jam 7 namun aku melihat bekas-bekas pesta yang telah mereka adakan. Aku berjalan meihat setiap wajah-wajah untuk menemukan kesya, laki-laki itu tak mau memberitahuku dimana kesya ia hanya mengijinkanku masuk. Hingga ahirnya aku membuka pintu salah satu kamar. Aku melihat kesya bersama wanita lain, sesaat pikiranku mulai kacau.
“Ilham” panggil kesya menghampiriku
“Maaf kalau aku menganggu” kataku sebisa mungkin untuk tetap tenang, aku pergi. kesya membuntutiku dari belakang
“Ayo kita bicara di luar”
Semenjak aku mengenal kesya, aku tak begitu peduli udara dingin di sekitarku, karena bagiku kesya sudah cukup dingin namun entah kenapa malam ini aku merasakan udara dingin yang begitu dingin dan menusuk.
kesya berdiri di depanku seakan menunggu aku bereaksi lebih dulu. Aku diam melihat tanah mencoba mencari ukiran-ukiran yang ada.
“Untuk apa kau kesini?” Tanya kesya, aku masih diam. kesya melihat tajam wajahku mencoba menebak. Aku mulai mengangkat wajahku
“Mulanya aku ingin bertanya padamu” aku masih berusaha bersikap tenang
“Tentang apa?” Telisiknya
“Siapa yang akan kamu pilih aku atau teman-temanmu?”
Tak ada jawaban yang aku dengar darinya, aku mendapat jawabanku sendiri.
“Tapi kini aku tau siapa yang akan kamu pilih dan tentunya itu bukan aku” lanjutku kemudian pergi meninggalkan kesya di malam itu.
Aku ingin melihat sejauh mana aku bisa menahan rasa sakit yang aku rasakan, begitu sakit dan dalam. Aku tak mau menangis aku ingin menyimpan tangis ini beserta rasa sakit ini agar kelak aku dapat menggali perasaan seperti ini untuk tak lagi tersakiti. Bagai sebuah vaksin.
*end
Sering kali ku merasa perbedaan yang harusnya membuat kami tak saling mengenal. Sikapnya yang dingin sering membuat masalah, berbeda dengan anak kebanyakan, itulah yang membuatku mengenal kesya. kesya tak sama seperti anak kebanyakan mungkin untuk sebagian orang akan menyebutnya dia sebagai keajaiban namun untuk sebagian lain akan menyebut dia sebagai kutukan. Sudah 2 minggu ini aku tak melihat kesya dia bahkan tidak masuk kuliah, dia juga sudah tidak datang ke tempat kosku, begitulah kesya datang dan pergi begitu saja. 20 Oktober 2016 malam ketika sedang bersama dengan melita di kamar, aku merasa udara dingin yang sedikit berbeda.
Aku menyusuri jendela mencoba menyingkap perasaan ingin tahu yang menyelubungiku pencarian pertama aku tidak menangkap apapun. Namun ketika aku hendak berbalik aku kembali merasa dingin. Kali ini kucoba menyusuri penglihatanku dengan seksama aku melihat sosok kesya disana. Tak perlu waktu lama bagiku untuk menghampirinya. Sama seperti yang kuingat terahir kali aku melihat kesya duduk di kursi depan, kulit pucat dengan tatapan tajam.
“Hai” sapanya, aku diam tak menjawab menunggu ia akan memberi penjelasan meski aku tau itu mustahil.
“Apakah semuanya baik baik saja?” Tanyanya
“Semuanya selalu baik” jawabku dengan menatap dalam matanya berusaha mencari jawaban dari
pertanyaanku sendiri. Selama 15 menit kami saling bertatap mata.
“Tidurlah sepertinya kamu sudah lelah” katanya kemudian pergi.
Esok harinya aku kembali tak melihat kesya di kampus, tapi aku tidak bisa benar benar memastikan ia tidak ada disana karena aku tidak benar benar mencarinya aku bahkan tidak punya pikiran untuk mencarinya. Hingga siang seorang wanita yang bernampilam anggun menghampiriku.
“Ilham?” Tanyanya, aku membalas dengan anggukan.
“Ikut aku” perintahnya aku pun mengikuti, kami tiba di sebuah perkebunan kosong belakang kampus.
“Seberapa jauh kau mengenal kesya?” Tanyanya
Aku terdiam mencoba menelisik pertanyaannya
“Pilihlah jauhi kesya untuk kebaikanmu sendiri atau…” Ia memotong pembicaraanya
“Apa maksudmu?” Tanyaku bingung
Dalam kebingunganku kesya beserta teman-temannya datang
“bella!” Panggil kesya, aku segera menoleh ke belakang. Aku tidak tau bagaimana tapi kurasa kesya beserta teman-temannya mengeluarkan ancaman dengan cara yang tidak aku mengerti. kesya menarik lenganku dan membawaku pergi.
Setelah hari itu aku sering bersama kesya mungkin hampir tiap hari, sering kali kesya mengajakku pergi bersama teman-temannya hal yang jarang kesya lakukan. Dan kesya mulai melakukan hal-hal yang kembali tak dapat aku mengerti. Aku ingin menanyakan tentang sosok wanita yang yang pernah mendatangiku pada kesya namun aku bingung harus mulai bicara bagaimana dengan kesya karena belakangan ini kesya mulai sangat sensitif dan pemarah.
Sosok wanita itu kembali mendatangiku.
“kesya telah mengambil jalan yang salah” ucapnya memulai pembicaraan, aku tak mengerti
“Ia telah bersama dengan orang-orang yang salah dan menyesatkan kesya”
“Bukan kau, tapi teman-teman kesya yang sekarang” lanjutnya
“Lalu apa yang sebenarnya telah terjadi?” Tanyaku
“Bersama teman-temanya kini dia telah menjadi seorang yang bukan dirinya”
“Apa yang terjadi pada kesya?
“Teman-teman kesya seorang bandar, dan dia…” Ia menghentikan ucapannya
“Harusnya kau lebih tau itu Ilham, perpisahan orangtuanya yang membuatnya salah mengambil jalan hidup”
“Siapa sebenarnya kamu?”
“Aku bella kakak kesya”
Ucapan bella siang itu bagai menjadi mimpi buruk untukku hingga kesya datang dan membangunkanku.
“kesya” panggilku terkejut
“Tadi bella menemuimu?” Tanyanya dengan wajah pucat pasi, aku mengangguk, ia memalingkan
wajahnya aku mendekat padanya dan menyandarkan kepalaku dibahunya.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanyaku
“Apa yang dikatakan bella?”
Aku diam dan menggenggam tangannya
“Mereka sudah tidak menganggapku lagi, aku hanya butuh orang yang mengerti aku”
“Aku berharap kamu bisa mengerti Ilham”
Tanggal 1 November kesya makin tidak terkendali, dia sangat sering bersama teman–teman yang aku dengar dari Niko mereka termasuk kelompok pemasuk nark*ba di kampus kami, ini makin membuatku takut kesya akan menjadi seperti mereka. Banyak orang yang tahu tentang kelompok itu datang untuk memperingatiku namun ketika kesya tau ia makin menjadi. Saat ini aku dan kesya sedang bersama aku belajar untuk ujianku besok sedang kesya tiduran di kursi.
“Kau sudah jarang datang ke kampus?” Tanyaku
“Kupikir itu sudah tidak perlu” ucapnya ketika aku datang menghampirinya
“kesya apa kamu yakin kamu akan masuk kelompok teman-temanmu kini?” Mata kesya berubah
“Apa maksudmu?”
“Tidak bisakah kau tetap menjadi kesya?”
“Apa kamu akan seperti orang orang yang telah membuangku?”
Aku tak dapat mengungangkapkan apa yang kuinginan dari kesya, aku hanya membalas pertanyaannya dengan putus asa. Aku tetap berharap kesya akan mendapat hal yang terbaik.
Tanggal 21 Januari, sudah 1 bulan lebih aku tidak bertemu kesya. Kini sedikit demi sedikit aku mulai menemukan jawabanku tentang arti sebuah cinta. Terkadang mencintai adalah melakukan hal terbaik untuk orang yang kita cintai meski harus dengan pengorbanan.
“Kamu tau mereka berada dimana sekarang?” Tanyaku pada Niko
“Teman-teman kesya?”
Aku mengangguk, Niko memberiku sebuah alamat
“Apa yang akan kamu lakukan?” Aku diam karena aku juga tidak yakin akan apa yang akan aku lakukan.
Tepat jam 7 sore aku ketempat teman-teman kesya, salah satu diantara mereka membuka pintu
“Aku ingin bertemu kesya”
“Sepertinya bukan waktu yang tepat, aku akan memberitahu kesya agar ia menemuimu”
Laki-laki itu sepertinya mengenal aku
“Aku akan pergi malam ini jika tidak sekarang kami tidak akan bisa bertemu lagi” paksaku dengan berbohong kali ini aku berharap ia akan mengizinkanku masuk.
Dengan sangat terpaksa ahirnya ia mengizinkaku masuk. Meski baru jam 7 namun aku melihat bekas-bekas pesta yang telah mereka adakan. Aku berjalan meihat setiap wajah-wajah untuk menemukan kesya, laki-laki itu tak mau memberitahuku dimana kesya ia hanya mengijinkanku masuk. Hingga ahirnya aku membuka pintu salah satu kamar. Aku melihat kesya bersama wanita lain, sesaat pikiranku mulai kacau.
“Ilham” panggil kesya menghampiriku
“Maaf kalau aku menganggu” kataku sebisa mungkin untuk tetap tenang, aku pergi. kesya membuntutiku dari belakang
“Ayo kita bicara di luar”
Semenjak aku mengenal kesya, aku tak begitu peduli udara dingin di sekitarku, karena bagiku kesya sudah cukup dingin namun entah kenapa malam ini aku merasakan udara dingin yang begitu dingin dan menusuk.
kesya berdiri di depanku seakan menunggu aku bereaksi lebih dulu. Aku diam melihat tanah mencoba mencari ukiran-ukiran yang ada.
“Untuk apa kau kesini?” Tanya kesya, aku masih diam. kesya melihat tajam wajahku mencoba menebak. Aku mulai mengangkat wajahku
“Mulanya aku ingin bertanya padamu” aku masih berusaha bersikap tenang
“Tentang apa?” Telisiknya
“Siapa yang akan kamu pilih aku atau teman-temanmu?”
Tak ada jawaban yang aku dengar darinya, aku mendapat jawabanku sendiri.
“Tapi kini aku tau siapa yang akan kamu pilih dan tentunya itu bukan aku” lanjutku kemudian pergi meninggalkan kesya di malam itu.
Aku ingin melihat sejauh mana aku bisa menahan rasa sakit yang aku rasakan, begitu sakit dan dalam. Aku tak mau menangis aku ingin menyimpan tangis ini beserta rasa sakit ini agar kelak aku dapat menggali perasaan seperti ini untuk tak lagi tersakiti. Bagai sebuah vaksin.
*end

gagal paham ane
BalasHapus