Big Brother

"Kenapa 'Kakak' selalu lahir duluan?"

Mereka memberiku cengiran lebar yang identik sebelum menjawab bersamaan, "Karena mereka ada untuk mengerjai adik kecil yang diwajibkan hormat pada mereka," sambil memperagakan hormat ala tentara.

Aku merengut kesal. Tetapi aku sama sekali tidak menolak saat mereka mengacak pelan rambut yang sudah kusisir rapi—aku senang mereka memperlakukanku seperti itu.

Aku senang.

Sangat, sangat senang.

"Kami berangkat sekolah dulu, Adik kecil. Jangan buat Bunda marah sebelum kami pulang, ya!"


Aku, yang saat itu masih berumur 3 tahunan, membalasnya dengan tawa kekanakan dan lambaian tangan. Dan setelah Ron menutup pintu dengan gaya 'khas'nya (baca: dibanting), aku berlari kecil menuju ruang tengah untuk bermain atau menggambar—apapun itu kegiatan yang bisa kulakukan untuk mengisi waktuku sampai mereka pulang.

Karena aku tahu, kalau mereka berdua akan pulang dengan senyuman cerah di wajah dan mengajakku bermain lagi seperti biasa.
*(0)OoO(0)*

Big Brother


T for Tragedy/Family, death chara, Kyle-Ron-Hall kinship.

"Kenapa 'Kakak' selalu lahir duluan?"

Mereka berdua menoleh ke arahku lagi, sama seperti dulu. Mereka ingat kalau aku pernah menanyakan hal ini dulu, tetapi mereka tidak keberatan untuk menjawabnya sekali lagi—aku tahu itu.

"Untuk apa kira-kira, Ron?"

"Hmm... Entahlah. Untuk membuat geram adiknya, mungkin?"
Aku tersenyum masam. Mengingat kejahilan yang sudah mereka lakukan padaku, aku tidak bisa menahan diri untuk menggerutu pelan. Dan yah, Kyle memang Kyle dan Ron masih tetap Ron—keduanya malah mengacak rambutku seperti dulu sebelum beranjak untuk pergi 'berburu'. Keduanya membawa Pedang  yang mirip tetapi berbeda warna kyle dengan gagang berwarna kuning keemasan dan ron dengan gagang berwarna biru tua. Cengiran lebar masih menempel di wajah mereka ketika mereka berjalan menjauhiku sambil melambaikan tangan.

Tetapi aku, yang kini sudah berusia 17 tahun, tidak bisa lagi menunggu mereka seperti dulu.

Aku tidak bisa lagi menunggu mereka sambil bermain dengan polosnya.

Aku tahu apa yang akan mereka hadapi di luar sana: sebuah bahaya yang bisa saja merenggut nyawa mereka.

Ah, seandainya saja aku tidak mematahkan tanganku beberapa hari yang lalu...

Jika saja aku tidak mematahkan tanganku dan bisa ikut pergi dengan mereka sesuai harapanku...
*(0)OoO(0)*

"...Kakak?"

Ron tidak menjawabku. Matanya yang mirip mata elang menatap hampa kerumunan di hadapan kami. Tubuhnya berlumuran darah dari kepala hingga kaki, kulitnya terlihat pucat pasi, dan mulutnya sedikit terbuka. Ia tidak bergerak sama sekali; ia terlihat seperti sudah mati. Seperti mayat yang masih bisa berdiri dengan air mata mengalir dengan sendirinya.

Aku tidak suka melihatnya menangis. Terakhir kali ia menangis, sesuatu yang buruk terjadi pada Kyle. Waktu itu ia masih menangis sambil mengumpat keras setelah melihat Kyle masuk rumah sakit karena mencoba melawan berandal sekolah; ia masih bersuara. Tetapi sekarang, di saat ia diam dan bahkan tidak sadar aku ada di sampingnya...

...aku tidak suka hal ini.

Aku tidak berani melangkah ke sana.

Tangan Ron yang menggenggam erat tanganku juga berkata demikian dalam diam.
Tetapi kakiku... Kakiku yang memberontak dan berjalan tanpa perintah menuju kerumunan di depan sana...

"...Hall..."

Ah. Ron bersuara. Suaranya serak dan parau. Aku bahkan nyaris tidak bisa mendengarnya di tengah isak tangis yang membahana di mana-mana. Aku ingin tetap bersamanya dan berharap sosok yang terbaring di tengah kerumunan sana (sosok dengan kaki berlumur darah dan bagian bawah celana yang sobek sana-sini) bukanlah Kyle. Aku ingin tetap di samping Ron sampai ia mengajakku untuk mencari Kyle yang belum kulihat sejak tadi. Aku ingin—
-kenapa Paman Ed meneteskan air mata?

Kenapa Bunda tampak terguncang?

Kenapa Ayah tidak juga berdiri dan mengangkat kepalanya untuk menyapaku?

Di mana Kyle?

...apakah itu pedang emas milik Kyle yang tergeletak di tanah, digenggam oleh tangan tanpa badan 

yang berada agak jauh dari kerumunan di depanku sana?
Tangan siapa itu?

"...jangan ke sana, Hall."

Aku tidak mempedulikan Ron lagi, meski ia sudah menggenggam erat tanganku yang tidak patah dan menahanku untuk tidak pergi. Aku berjalan menuju tempat keluargaku yang lain berada—ke tempat dimana Jane menatapku iba dengan mata oniksnya.

Langkahku berubah cepat. Mataku terasa panas. Jantungku berdebar kencang. Rasa takut menyelimutiku begitu melihat helaian rambut merah yang berserakan di tanah. Dan rasa takut benar-benar membuat tubuhku kaku begitu aku melihat wajah dari tubuh tanpa nyawa yang terbujur kaku di sana.

"...Kyle...?"

Seseorang menghampiriku dari belakang; menutupi mataku dengan tangannya yang masih berlumuran darah. Dari suaranya yang parau, aku langsung tahu siapa dia.

"Jangan lihat."

Dadaku nyeri. Sesak. Pipi dan rambutku terasa hangat—ada seseorang yang menangis saat menenggelamkan wajahnya di helaian rambutku. Seseorang yang tengah menutupi mataku dan 
memelukku dari belakang; seseorang yang sama kehilangannya seperti aku.

"Kau tahu dia benci dilihat dalam keadaan 'memalukan'."

"Kakak—"

"Kau tahu dia tidak suka jika ada yang melihatnya dalam waktu yang tidak tepat."

"—Kyle—"

"Jangan lihat Kyle sekarang, Hall."

Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tangan Ron menghalangi pandanganku. Di saat-saat yang kelam itu, semua memori tentang Kyle muncul tanpa kuundang; mulai dari saat ia membantu Bunda mengajariku berbicara, menemaniku bermain setelah mengerjakan PR dan meninggalkan Ron yang kebingungan karena tidak tahu cara penyelesaiannya, ikut bersorak saat aku menjuarai lomba lari di SD, atau bahkan saat ia mengerjaiku dengan memaksaku memakai dress lolita...

Ah. Ada satu lagi—satu pertanyaan yang kuberikan sambil menahan tangis. Jawaban yang ia berikan ketika terkapar di rumah sakit setelah melindungiku dari berandal yang menghajarku hanya karena masalah sepele membuatku tidak kuasa menahan teriakanku.

*(0)OoO(0)*
"Kenapa kau rela terluka parah begini untukku? Kau bisa saja meninggalkanku dan mencari polisi, 'kan?"

Ia tertawa renyah sambil mengacak-acak rambutku, mengacuhkan rasa sakit yang pasti muncul dari tulang tangan kanan yang patah. "Bicara apa kau ini, bodoh?"

"Aku hanya bertanya kenapa kau mau saja membalas serangan mereka..."

"Bo-doooh."

Aku menggigit bibirku—lelaki tidak boleh menangis; itu prinsipku saat itu. Tetapi prinsip itu hancur seketika saat kulihat ia tersenyum lembut dengan tangan masih berada di kepalaku. Ketika ia berkata, 

"Karena itulah seorang 'kakak' selalu lahir lebih dulu dari 'adik'nya; tugas mereka adalah 'melindungi adik-adiknya', tidak peduli harus mengorbankan nyawa atau terluka parah sepertiku."
Akhirnya dia mengatakan jawaban serius dari pertanyaan favoritku itu.

"Karena itu, jangan menangis—aku masih mau mengerjaimu lebih lanjut, jadi jangan khawatir sampai menangis begini."

Setelah ia berkata seperti itu, aku tidak bisa melakukan apapun selain memeluknya erat dan membiarkannya menggodaku habis-habisan karena menangis di hadapannya.

Kurasa itu adalah pelukan terakhir yang kuberikan padanya, eh?

Jika saja ia melihatku menangis sambil meneriakkan namanya seperti sekarang... kira-kira apa yang akan ia katakan?

Apa yang kira-kira akan ia lakukan?

Ia sudah tidak bisa mengerjaiku lagi. Ia tidak bisa menggodaku lagi. Ia tidak bisa memelukku lagi dan menenangkanku ketika aku dilanda rasa takut yang mengerikan. Ia tidak bisa lagi tertawa; tidak bisa lagi mengacak-acak rambutku sambil menyeringai lebar seperti dulu.

Jadi... apa yang akan ia lakukan?

Hei, Kyle. Apa yang akan kau lakukan jika melihat aku dan Ron menangis di depanmu seperti anak-anak? Apa yang akan kau katakan pada kami, yang tidak bisa lagi dipeluk dan dikerjai olehmu?
Apa yang akan kau lakukan jika melihat adik-adikmu ini menangisi kepergianmu, Kakak?


Tamat.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman?

Dark Path

Andai saja aku tau