Samudra


sepertinya kerajaan matahari telah bergeser dalam caranya menghadap Bumi, mereka berkata saat Bumi meninggalkan wajahnya dari Bumi utara tempat aku duduk ini, maka musim telah menjadi dingin. Sedingin angka 41 derajat fahrenheit yang ditunjukkan termometer ruangan, penghangat ruangan saja butuh waktu untuk mencairkan kedinginan ini. Jadi, setidaknya jangan berharap banyak padaku.

gelap, bukan berarti tak pernah ada cahaya, kamar ini memang selalu kubiarkan gelap meski sebuah bohlam hemat energy terpasang di tengah ruangan dari kayu ini. Aku benci suara gaduh, ramai, juga teriakan dari luar kamarku. Karena itulah, aku membiarkan kamar ini gelap, berharap aku dan kamarku tak mengganggu apa yang lagi mereka ramaikan.

bukan maksudku membodohi diri sendiri, karena memang, meski jika harapan ada padaku, aku harusnya lebih memilih tak ada kegaduhan itu di luar kamarku. Tapi aku sadar siapa aku, dan siapa mereka, lalu apa itu harapan. Karena itu, ketika aku berharap, aku menyatakan harapan itu dengan padamnya kamar ini.

ayah dan ibu, mereka selalu saja ribut satu sama lain, beberapa waktu lalu bahkan aku sempat mendapati bagai mana pernikahan yang hampir 17 tahun mereka hampir berakhir. Apanya yang janji seumur hidup? Bahkan belum juga 17 tahun saja telah nyaris berpisah.

bahkan angka 17 tahun itu tak pernah melebihi umurku yang 5 bulan lebih tua dibanding umur pernikahan mereka.

lalu di mana sekarang janji itu?

"Hei.. Benarkah?" kepada siapa aku bicara, itu adalah kata yang jauh tertimbun dalam pikiranku, tak seharusnya aku mengucapkannya. Hanya masalah waktu sampai semua ini berakhir.." Benarkah, masa depan akan baik-baik saja?"

***

sebatang rokok terapit antara jati telunjuk dan jari tengah, tangan kananku seolah berasap akibat rokok itu. Telah 20 tahun umurku, dan besok adalah tepat 2 tahun orang tuaku berpisah, setidaknya aku telah lulus sekolah ketika mereka bercerai.

itu adalah masa lalu menggelikan di mana ternyata cinta bisa berubah begitu cepat. Mereka hanya orang tua payah yang selalu mengejar kenikmatan sesaat, 18 tahun adalah waktu yang tak lama jika aku menengok janji sehidup semati mereka. Aku bahkan sudah di kandungan ibu ketika ibu belum menamatkan sekolahnya, apa lagi yang bisa kubilang hebat dari mereka?

aku tumbuh dari keluarga antah berantah, aku tak punya adik ataupun sanak keluarga, dan karena itulah masalah dari dalam rumah selalu kulampiaskan di luar rumah. Ketika aku mengepal tinjuku, kebencian yang menyerang berandalan itu bukan kepada siapa tinju kuarahkan, ini murni kekesalan yang tulus pada orang tuaku.


menjadi berandalan dengan bertarung melawan berandalan lain, itulah aku ketika aku menyadari kalau hanya seperti inilah hidup membawa arah telapak kakiku. Dan ketika dunia menyalahkan aku, berpalinglah aku bertanya pada mereka tentang." Siapa orang tuaku? Merekalah yang bermasalah, bukan aku!"

begitu, terkesan melarikan diri memang, tapi memang itulah yang mengawali liarnya hidupku. Aku tak betah di rumah, dan tak sekalipun nyaman bersama orang-orang itu yang kehilangan senyuman dan kasih sayangnya.

ah, aku terlalu larut dalam lamunan. Lihat, rokok ini bahkan telah menghanguskan filternya.

di gang sempit bersama himpitan kegelapan dan aroma sampah ini, aku bisa lebih memikirkan jalanan, kawan, aspal, kejahatan, dan alasan kenapa aku hidup di tempat penuh limbah perbuatan manusia. Satu hal yang pasti, aku tak pernah menyesal.

aku berdiri keluar gang, kaos dan celana pendek ini melekat bagai simbol kebebasanku. Warna kelabu dan hitam adalah tempatku, mereka mengenali siapa pun yang memakai simbol ini sebagai kotoran rakyat. Tapi sebenarnya kami ada karena sistem yang dibuat rakyat, asal tahu saja, mereka lebih kotor dari kami.

"Hei, tunggu!" teriak seseorang entah dari mana. Aku tak punya banyak kenalan wanita yang berani menyapaku, yang kupikirkan adalah, dia tak sedang memanggilku.." Kumohon, tunggu!" suara tinggi ala teriakan wanita itu tetap menyuruh seseorang menunggu.

kali ini aku merasa tak ada salahnya aku menoleh mencari sumber suara itu yang kuyakin berasal dari belakangku. Seorang wanita susah payah dengan kaki pincangnya berlarian menuju tempat aku mematung, suara tongkat berjalannya membentur tanah dengan keras setiap giliran kaki kanannya melangkah. Siapa dia?

"Akhirnya kau berhenti." ia berkata riang seakan tak terpengaruh wajah sangar dan aroma ideologi premanisme yang terpancar dari tubuhku.

melihatnya yang seorang wanita cantik dan kaki buntungnya sedang menghampiriku sekarang mengingatkanku akan film terminator skuel ke tiga, hanya saja aku tak berharap ia akan menembakku dengan senjata di tangannya. Tanpa sadar keringat dinginku muncul hanya karena dia.

aku menunjuk diriku sendiri dengan pertanyaan yang wajar, " Aku?"

"Iya!" tegasnya.

"Ada apa?"

ia berkali-kali mengatur napasnya yang terkuras saat mendekat padaku, aku masih bingung di sini tanpa sepatah kata darinya yang menjawab pertanyaan dan kekhawatiranku. Tangannya menengadah seolah memintaku membiarkannya bernapas dulu, harusnya ia tahu kalau siapa pun pasti akan membiarkannya bernapas tanpa diberi tanda.


"Aku, ah, mungkin akan lebih baik kalau langsung intinya." ia masih tersengal-sengal, usianya mungkin sedikit lebih tua dariku, tapi walau masih muda, kakinya pasti akan memengaruhi staminanya, terutama saat berlari.." Ah, tidak, harusnya dimulai dari awal dulu, jadi, mungkin akan lama."

"Yang jelas kalau bicara!" tak peduli entah ini di jalan atau mana, kerumunan orang di sekitarku tak akan peduli aku membentak pada siapa.

tapi dia tampak tak takut sama sekali meski di depannya aku telah membentaknya.." Maaf, aku memang kurang pandai bicara, tapi bagai mana kalau kita mampir ke rumahku, aku janji akan membuat pembicaraan kita jelas dan menyenangkan."

"Kau yakin?"

"Aku tak begitu yakin tentang apa akan menyenangkan, tapi aku akan berusaha."

"Bukan itu, kau yakin mau membawaku ke rumahmu? Apa kau tak salah orang?" jelas saja aku heran, dia tak mungkin mau membawaku ke rumahnya kan? Meski aku tahu saat ia bilang itu tak ada maksud mengerikan di dalamnya, tapi aku tetap saja merasa aneh, " Kau tak lihat siapa aku?"

bagus, dia sekarang menatap aneh ke arahku, kuharap dia salah orang karena punya mata rabun atau ingatannya yang sedang kacau tiba-tiba sembuh.

"Kau juga tak tahu siapa aku kan? Sudahlah, kita sama-sama tak tahu satu sama lain. Tapi kurasa aku tak akan membiarkan kesempatan untuk mengenalmu hilang menguap begitu saja." jawabnya, ia keras kepala sekali, " Jika kau menemukan seorang yang dulu mengajarimu cara untuk bahagia, apa kau akan melepaskannya begitu saja?"

"Kau sinting ya!" lagi-lagi aku kasar pada wanita di depanku, " Aku tak pernah mengenal orang pincang sepertimu atau bahkan melihatmu." baiklah, ini keterlaluan, tapi aku benar-benar merasa harus mengatakannya, bukankah itu alasan setiap orang yang mengucapkan perkataan kasar.

"Sudahlah, marahlah sesukamu. Tapi kumohon dengarkan aku, aku ingin balas budi padamu. Aku ingin kau tahu sesuatu, ibuku juga pasti ingin bertemu denganmu." dia menjawab dengan tanpa ragu.

ia mengucapkan kata yang sangat menyakitkan di depanku, emosiku memuncak ketika kata itu terucap. Aku menatap lebih tajam pada wanita di depanku, tapi ia tetap tak gentar. Aku begitu ingin mendorongnya sampai jatuh, tapi, akhirnya aku mampu menahan keinginan itu.." Karena kita belum saling kenal, " aku berusaha tenang, tapi tetap kesal, " Sebaiknya jangan bicara banyak, aku benci kalian! Aku benci hidup ini!"

wanita itu kehilangan wajah cerahnya bahkan di siang terik ini, juntaian pertanyaan dan kekecewaan mungkin sudah ada banyak dalam benaknya, aku tak peduli!

"Jika mau bahagia, bahagialah sana! Kau bilang kau sudah tahu caranya kan?" aku menambahkan.

jalanan ramai tadi tetap ramai meski banyak wajah yang pulang pergi dari tempat kami saling berhadapan, saling mempengaruhi dan memaksakan pendapat diri sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca, " Karena itu aku ingin bicara, jika kau tak mau ke tempatku, ucapkan tempat di mana kita bisa bicara, restoran, kedai, atau apapun. Asal jangan di sini."

"Kenapa kau begitu keras kepala memaksa berandalan sepertiku sih? Hanya karena kau wanita, apa kau pikir aku akan menu..."

"Bukan, " dia mengatakannya, untuk menyela segala yang apa yang mungkin kukatakan, dan seiring suaranya menggema, tongkat berjalannya kembali ia gerakkan untuk menuntun kaki kanannya yang pincang untuk pergi. Ya, aku harap ia segera pergi, " Tapi karena aku sudah terlanjur bertemu denganmu."

pergi sana! Pulanglah ke tempat ibumu menunggumu, ke neraka sana sekalian! Wanita sialan!

"Kalau begitu, begini saja, " dari langkah kaki dan dentuman tongkatnya yang memecah suara keramaian, suaranya kembali nyaring, dan ditujukan padaku, " Hanya kita berdua, jam 3 sore di restoran Rount Lè Möyrè, aku akan menunggumu meski sekarang kau bilang tidak akan datang, dan lihat siapa yang menang dalam pertemuan kita kali ini."

pesan itu benar-benar menjadi berita buruk buatku. Lalu aku ingat tentang peringatan pertama yang kudapat dari jalanan tempat hidupku menggeliat ini, jangan percaya pada hal yang tampak di depanmu, atau saat kau berbalik, mereka akan menusukmu.

Rount Lè Möyrè, restoran yang lokasinya berada di belakang rumah sakit pusat di kota penuh penyakit ini. Berada di kawasan segi empat wisata, dan banyak geng kecil yang berbuat anarkis di tiap sudut lokalisasi sampah dan rongsokan.

restoran bintang lima itu berada di tempat yang sudah lama tak pernah kujejaki, sudah empat bulan jika aku tak salah ingat, aku bahkan hampir lupa bau jalanan di sana. Kudengar harga makanan di sana selangit dan sangat enak rasanya. Tapi, aku tak akan pernah aku tergoda oleh kesempatan dan makanan, termasuk juga wanita.

"Cih."

***

jam 3 sore, semalam dan setelahnya sampai saat ini sejak aku bertemu wanita pincang itu, aku terus memikirkan tentang janji ini, semakin aku berusaha melupakan dan menganggap itu tak pernah terjadi, aku malah semakin risau atas janjinya. Aku memikirkan janji itu, karena aku tak ingin memikirkannya, kejadian ini sama seperti ketika aku tak ingin memikirkan orang tuaku yang payah, tapi malah membuatku semakin memikirkannya.

aku berkali-kali menanyakan pada diriku sendiri, sebenarnya apa tujuan dia menghampiriku? Kenapa dia ingin berterima kasih padaku? Aku tak pernah ingat melakukan sesuatu untuknya, dan seperti yang kemarin kukatakan, aku belum pernah melihat wajahnya.

aku tak pernah melihat wajahnya, aku yakin aku tak akan lupa wajah orang-orang yang kubenci karena kebahagiaan mereka. Aku benci orang yang bahagia, terlebih pada hubungan antar orang tua dan anak. Aku hidup dengan faham kekerasan, punya lebih banyak musuh untuk kuingat dibanding teman yang teringat. Jadi, aku tak mungkin melupakan dia, kecuali memang benar aku tak pernah bertemu mata dengannya.

dan satu hal lagi. Apa yang dimaksud mengajarkannya untuk bahagia, aku bahkan tak bisa menemukan cara untuk bahagia demi diriku sendiri. Dan karena aku tak menemukan hal itu, aku tak menyukai orang lain bahagia jika aku belum bahagia.

sisa-sisa pertanyaan itu membungkam waktu tidurku semalam, hari ini adalah tepat pada tanggal dan bulan di mana orang tuaku bercerai. Dan di hari yang sakral ini aku sedang menghindari permintaan seorang wanita yang memintaku datang bertemu.

aku tidak terikat janji, atau setidaknya, aku menolak mengikat janji dan membiarkan seorang wanita cacat terikat dengan janjinya. Hampir jarum pendek menyebutkan angka empat, dan matahari masih tergantung indah di sudut elevasi 25 derajat di atas kepala, tentu belum terlalu sore.

ia pasti sudah menungguku yang sama sekali tak punya niatan datang. Tapi di antara berbagai alasan dan kebencianku pada wanita itu, kakiku bergerak tanpa pengaruh pikiranku, keluar dari kamar di rumahku yang sepi tanpa orang tua, dan dengan berpakaian seadanya, aku tahu kemana kaki ini akan membawaku. Pasti ke restoran itu.

jam setengah tujuh, aku sampai di restoran Rount Lè Möyrè, sketsa jingga pantulan matahari yang tercermin aspal tempat aku berdiri menghadap gedung bertingkat rumah sakit. Matahari menyinari wajah tampak sisi kiriku, dan bayangan tubuhku memanjang sisi kanan.

aku bisa menebak, ia pasti sudah pulang sekarang. Wanita itu tak akan mampu berlama-lama meninggalkan kebahagiaannya bersama keluarga hanya demi laki-laki kurang ajar sepertiku. Dia pasti telah nyenyak tidur ataupun santai di kamarnya.

tapi aku akan menunggu, menunggu di sini, aku menyandarkan tubuhku pada dinding samping pintu restoran. Kamera CCTV akan memastikan kalau aku menunggu, meski aku ataupun kamera itu tak tahu alasan apakah aku menunggu. Benar, aku tak tahu untuk apa. Hanya ada kakiku di sini yang berkuasa, ia bahkan menghianati pikiranku dengan membawaku ke sini.

jam delapan, matahari benar-benar sudah tenggelam. Punggungku masih melekat pada dinding ini, tak banyak yang kulihat selain pengunjung keluar masuk atau manajer restoran yang memarahiku karena terus berada di sini dan menakuti pelanggan. Dinding beton restoran ini membuatku tak mampu banyak melihat situasi di dalam. Tapi aku semakin percaya pada diriku yang ternyata tak sebaik yang aku impikan semasa kecil. Aku menunggu diam, dan menyesali banyak hal. Tapi aku selalu melarikan diri, sampai akhirnya tak tahu di mana aku bisa berhenti.

dan aku terus menunggu, mungkin sampai dua kaki ini lelah.

"Daisy..." seseorang membangunkan tidurku, terlalu lama aku berdiri menempel di dinding ini, pikiranku lelah terjaga tapi kaki ini masih mampu berdiri. Suara yang membangunkanku itu adalah suara wanita yang kemarin, dan benar, sosoknya tegak menghadap badanku, ia memindahkan tongkatnya di tangan kiri karena tangan kanannya terbuka ke arahku.." Perkenalkan, aku Daisy." ucapnya memperkenalkan diri.



aku mendiamkan tangan yang mencoba menjabat tanganku. Aku terlalu kaget mendapati wajahnya di depanku juga di depan restoran ini. Kenapa? Harusnya dia sudah pulang? Kenapa ada di sini?

jam 1 dini hari, mata ini terlalu jujur untuk menahan keinginan tak melihat jam di tangan kananku.

ia menghela napas, " Aku senang kau di sini, jadi, lupakan tentang janji jam 3 itu maupun restoran yang sudah tutup ini."

aku menundukkan kepalaku, pertama kali aku merasa bersalah, " Jadi, begitu. Kau menungguku dari jam tiga sampai restoran tutup." mungkin aku sedikit ramah gara-gara melamun selagi berada di sini, menunggu benar-benar mengubah sebagian diriku.

"Cuma sepuluh jam. Aku sudah menunggu kesempatan bertemu denganmu selama 4 tahun." jawabnya.

"4 tahun?"

"Ya, jadi, bisakah kita mulai bicara sekarang." ia kembali mengulurkan tangannya.

aku memalingkan muka, dan ada sedikit rasa malu, tapi sekarang aku ingin sekali mendengar semuanya dan tidur nyenyak esok hari, " Baiklah, kuharap akan menyenangkan." aku turut mengulurkan tanganku, " Samudra, namaku samudra."

ia tersenyum puas, penuh kelegaan hanya karena mendengar aku menyebut namaku.

"Jadi, setidaknya aku ingin menepati satu janjiku untuk membicarakan hal ini di restoran ini, meskipun hanya di terasnya saja." ia mengambil tempat duduk di samping tempatku berdiri, aku ikut duduk.." Dunia begitu sempit, tapi kadang begitu luas." ia memandang ke rumah sakit di seberang jalan sana, dan meski terhalang tembok maupun pagar itu, ia tetap berusaha memandangnya lebih jauh lagi.

seperti katanya, dunia begitu sempit, tapi kadang begitu luas, " Dan itu tergantung cara kita memandangnya kan?"

"Juga cara kita memikirkannya, " ia merentangkan kakinya yang cuma sebelah, " Kau sama sekali tidak seperti pemikiranku saat dulu aku melihatmu melakukan itu. Tapi biarlah, namamu samudra, jadi, jika kau mau menyelami dan mencoba mencari, pasti hati terdalammu akan ketemu." tak ada raut wajah sedih saat ia menatap kaki itu, yang ada hanya perasaan rela dan tampak biasa.

meski baru itu yang ia katakan, aku seakan mengerti apa maksudnya, karena memang meski aku tak seperti orang yang pintar tapi aku ini mudah mengerti, hanya saja aku ragu itu pengaruh nama, " Oh, jadi kau hanya pernah melihatku melakukan sesuatu? Dan sebelumnya kita memang belum pernah ketemu. Aku sedikit lega."

ia menunjuk pada jalan di hadapan kami, meski dini hari, lampu jalanan itu membuat cahaya indah tersendiri. Kerumunan manusia yang lalu lalang tak ada lagi sekarang, seperti hanya cerita siang hari, hanya ada satu atau dua yang melintas saja.." Di sana." ternyata yang ia tunjuk adalah sebuah kamar di rumah sakit itu.

aku memfokuskan pandanganku pada titik yang ditujunya. Sebuah ruangan yang tampaknya sudah ada penghuninya karena ada cahaya lampu memancar di bingkai jendelanya.

"Pada umurku yang ke tiga belas, kakiku terkena infeksi dan menyebabkan tetanus. Semakin hari semakin parah dan jumlah obat maupun terapi semakin banyak." Daisy mulai berada dalam alur ceritanya.

"Begitu ya, itu sebabnya kakimu..." aku menyela.

"Waktu itu belum saatnya bicara soal hilangnya kakiku, kata dokter masih bisa disembuhkan dengan obat dan medical cure tanpa mengorbankan kaki. Tapi, " ia menarik napasnya perlahan, lampu jalanan benar-benar membuat semua kata-katanya terdengar jelas, juga napasnya, " Akibat terlalu banyak mengkonsumsi obat, ginjalku mulai rusak..." ia melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat tertunda oleh napasnya.

setelah melirikku sebentar, mungkin untuk mencari tahu apa aku masih di sini, dia kembali melanjutkan ceritanya, " Aku yang sekarang ini, hidup dengan satu kaki, dan juga satu ginjal." ia menerangkan, " Bersamaan dengan vonis rusaknya ginjalku, dokter menyarankan agar segera melaksanakan amputansi dan operasi pengangkatan ginjal."

itu hidup yang membingungkan untuk dikomentari, tapi sangat terasa begitu sulit hidupnya yang harus bergelut dengan penyakit. Aku hanya diam untuk menerima ceritanya yang tercurah itu.

"Bukan hanya itu hal buruknya, gara-gara hilangnya kaki itu, ibuku harus membatalkan pertunanganku karena khawatir dan kasihan pada laki-laki yang kucintai yang menjadi tunanganku."

"Apa? Kau pernah tunangan?" aku menyela, dan ini untuk yang kedua kalinya.

"Biasanya, orang tua dikalangan borjuis kota ini akan secepatnya mengatur pertunangan anaknya di usia dini dengan anak lain yang menurutnya setara dengan status mereka. Aku ditunangkan oleh orang tuaku ketika umurku 9 tahun, laki-laki yang menjadi tunanganku 3 tahun lebih tua, tapi karena kurasa dia orang yang baik, aku jadi mudah dekat dan pada akhirnya mencintainya. Meskipun, aku yakin dia terlalu baik untuk menolak permintaan orang tuanya yang ingin menunangkannya, aku tahu dia tak pernah mencintaiku, " ia memperlihatkan sebuah cincin berlian mewah.

"Cincin pertunanganmu? Kau masih menyimpannya? Haha." aku tertawa garing, " Meski aku menghabiskan seumur hidupku, aku tak mungkin mampu membeli yang seperti itu." atau bahkan menemukan perempuan yang mau padaku saja mungkin tak kan ada, aku tak percaya akan jodoh meski aku percaya takdir, karena ketika jodoh itu datang, dia hanya berupa manusia tanpa ketetapan dan kepastian. Pada akhirnya akan terhapus sejalan dengan takdir.

"Ya, aku menyimpannya karena diminta olehnya. Mungkin lebih baik memang pertunangan kita berakhir, ibuku orangnya pesimis dan egois, aku tahu dia pasti memutuskan pertunangan untuk menyelamatkan perusahaan. Tapi aku juga tak ingin berpisah dengannya, karena itu, aku kehilangan banyak hal dalam satu tahun saja." ia terus saja berkata, bercerita, dan menjelaskan masa lalunya. Belum ada sangkut pautnya denganku, tapi aku terus mendengarnya, " Aku masih ingat bagai mana sakitnya jiwa ragaku ketika hal buruk itu terus saja menimpaku, aku bahkan berniat menolak operasi dan merelakan apa pun yang terjadi padaku setelahnya, aku berniat mati jika memang lebih baik mati."

"Hari-hariku penuh kebungkaman, semua mengatakan aku akan baik-baik saja, tapi mereka bahkan tak tahu apa yang baik dari kondisiku saat itu. Batalnya pertunangan, hilangnya ginjal, kaki yang harus di ikhlaskan, kebaikan apa yang datang dengan segala hal itu?"

cerita tak bersekat itu benar-benar melarutkan perasaanku, aku seakan tahu perasaan seperti apa yang ia rasakan ketika semua itu terjadi. Tapi wanita ini tegar, setetes air mata belum mengalir dari matanya. Ia kuat dalam beberapa alasan.

"Apa yang akan temanku katakan ketika aku kembali pada mereka hanya dengan satu kaki saja? Aku terus memikirkan segalanya, dan semakin merasa lebih baik mati. Aku hidup di rumah sakit dengan memenuhi hati dengan perasaan takut, kecewa, dan benci pada orang-orang yang memberikan harapan palsu tentang kesehatanku." kemudian ia menambahkan sesuatu yang akhirnya menjawab kenapa ia kemarin hari tak takut sama sekali ketika aku berkata aku membencinya, " Aku benar-benar membenci mereka, juga ibuku, dan ayahku... Aku benci hidup ini."

aku tersenyum, tak tahu juga untuk apa, tapi mungkin karena masa lalunya yang begitu mirip denganku.." Sampai sekarang, aku masih membenci mereka. Yah, dalam arti lain mereka yang ada dalam hidupku." aku mengomentarinya.

"Aku kaget ketika tahu kau juga mengatakan hal yang sama denganku dulu, padahal aku yang dulu bisa berubah karena kamu." ia menjawab, ia kembali menunjuk jalan di depan kami.." Di sana."

"Di sana apa?"

"Dari ruanganku dirawat, aku sempat melihatmu hampir tertabrak mobil hanya demi menyelamatkan kucing liar." ia menjawabnya, dan itukah hubungannya denganku?

aku memang ingat pernah melakukan hal konyol itu, dan ketika itu aku masih menjalani kelas pertamaku di sekolah menengah atas. Aku mulai ingat dengan jelas, dan ketika aku mengingatnya, aku tahu pasti ia salah menilaiku hanya dengan melihatku waktu itu saja.

dan aku juga ingat salah mengira sesuatu darinya sejak pertama bertemu.

"Ah, ternyata dugaanku salah." aku berkata, " Kukira umurmu lebih tua dariku, ternyata tidak." lanjutku, dari mendengar ceritanya, ia tak pernah menyebutkan usia dalam ceritanya, tapi ketika aku menarik kesimpulan tentang usianya, ternyata saat ini ia masih sekitar 18 tahun.

"Ya, banyak yang bilang begitu. Tapi ini karena pengaruh obat ketika aku masih di rumah sakit, kulitku lebih tampak tua." ucapnya, lalu ia diam sejenak, " Kau tahu, waktu aku melihatmu mengorbankan nyawamu hanya demi kucing liar, tiba-tiba ada sebuah perasaan mengatakan bahwa kehidupan serendah apa pun tak boleh dibiarkan mati."

daisy membetulkan baju yang dipakainya agar tak membiarkan rasa dingin ini membekukan pita suaranya, menggeretakkan giginya sejenak, " Itu adalah pertama kalinya aku melihat orang membuktikan kalau nyawa itu berharga, bahkan untuk keberadaan yang tidak dianggap sekalipun. Melihat itu, lagi-lagi aku merubah pikiranku, aku ingin hidup, bukan untuk mencari mati, tapi untuk berbuat sesuatu sebelum kematian, melihat banyak hal sebelum kematian, merasakan keindahan sebelum kematian."

"Dan setelah itu, ini semua terjadi kan?" aku menghentikan ceritanya, ia menjawab dengan anggukan kecil dan helaan napas puas, " Kau benar-benar salah menilaiku." lanjutku.

wajah datar wanita itu sama sekali tak merasa kaget juga kecewa, tetap saja ia merasa senang, suatu beban sepertinya telah banyak berkurang.." Aku tidak salah menilaimu, " ia menolak anggapanku, " Karena kau, sekarang ada di sini."

aku melihat wajah wanita yang masih belum akan beranjak pergi, ia tersenyum lagi dan menyudutkanku, ia tak sepenuhnya benar karena aku ke sini bukan karena janji maupun wanita ini, tapi karena kakiku yang seenaknya bergerak ke sini.

"Sepertinya ibuku sendiri sangat senang waktu aku kembali ceria dan memutuskan ikut operasi, aku sudah membicarakan hal ini dengan ibu, dan ia bilang akan memberimu posisi di sebuah cabang perusahaannya." tawarnya, dan akhirnya aku tahu apa yang dimaksud akan menyenangkan juga yang ia maksudkan balas budi, tapi...." Tentu saja jika suatu saat aku bisa menemukanmu, dan akhirnya sekarang aku benar-benar menemukanmu. Bagai mana menurutmu, takdir membuat kita bertemu, bukankah sudah pasti dunia ini benar-benar sempit."

"Diam!" mood-ku hilang seketika, ia telah mengumbar kebahagiaannya dengan ibunya, dan aku paling benci melihat anak yang bisa akrab dengan orang tuanya, aku benci karena aku tak bisa sekalipun merasakannya. Aku iri, dan aku merasa lemah jika itu tentang hal yang tak kupunyai atau juga tak bisa kuraih.." Jangan bicara lagi!"

dia menatap dan menusukku dengan pandangan tajam penuh kecurigaannya, otaknya seakan bekerja, dan mulai menyadari sesuatu, " Dua kali, " ucapnya, " Dua kali aku menyebut-nyebut kebahagiaanku dengan ibuku, kemarin dan sekarang, lalu kau berubah sikap dengan cepat. Apa ada yang salah dengan ibuku? Ah bukan, sepertinya..." kalimatnya terpotong, seolah membiarkanku melanjutkan kalimatnya.

aku tak berniat menjawabnya atau pula menceritakan masa laluku, tapi hidung ini dan mulut ini seolah tak mampu lagi menahan rasa ingin berbagi penderitaan, aku ingin seperti dia yang bisa membagikan masa lalu dan bisa menemukan kebahagiaan.." Ya, mungkin yang kau pikirkan itu benar." aku membenarkan, " Lalu satu lagi, aku menyelamatkan kucing itu bukan murni hanya untuk menyelamatkannya. Cerita ini mungkin akan sepanjang apa yang kau ceritakan, kau mau mendengarkannya kan?"

aku pernah menatap bulan di malam seperti ini, tapi sekarang wanita di sampingku membuat malam yang dingin menjadi begitu hangat. Ia mengangguk, dan wajah antusias itu membuatku ingin bertanya kenapa ia peduli, ia sudah mengatakan tujuannya, harusnya tak masalah ia pergi sekarang. Dan wajah yang mengangguk itu membuatku memalingkan wajah dari rembulanku.

"Samudra, aku bahkan sangat benci ketika orang menyebut nama ini, karena ini adalah nama pemberian orang tuaku yang membuangku." sesekali aku melirik Daisy yang ternyata benar-benar mendengarkanku, tapi pandangannya menatap rumah sakit itu.

"Membuangmu?" Daisy memastikan.

"Mungkin lebih tepat kalau kubilang menelantarkanku, " aku mengoreksi ceritaku, " Aku sudah dikandungan ibuku sejak ibuku masih SMA, aku dulu juga tumbuh di lingkungan orang berada, ibu bertunangan dengan ayah dan saling mencintai sejak umur 7 tahun."

"Karena kekuatan bisnis, mereka bisa bersama dan mencintai. Tapi, karena saat itu ibu mengandungku, citra baik keluarganya akan jatuh di kalangan pebisnis. Untuk mencegahnya, kakekku memaksa keluarga ayahku untuk menikahkannya segera setelah mereka lulus. Dan tidak boleh bercerai sampai anak dalam dikandungan ibuku, yaitu aku, menyelesaikan SMA." aku menggali lagi masa lalu yang terpendam itu, mencoba agar tak satu tulang pun terlewat, aku tak ingin menyimpan bangkai itu lagi, " Dan karena kekuatan bisnis itulah secara perlahan, kekuatan di antara cinta mereka semakin pudar. Perjanjian hitam di atas putih itu mengubah segala cinta menjadi rasa tidak percaya, mereka saling menuduh dan menyalahkan." aku melanjutkannya.

"Dan karena itu, jawaban atas penawaranmu adalah tidak. Aku lebih suka keadaanku yang sekarang." aku menoleh kembali memandang wajahnya yang sepertinya akan berusaha mencegahku menolak penawaran itu. Cepat-cepat aku kembali pada cerita, " Sejak hari penandatanganan itu, cinta mereka menjadi aneh, dan semakin aneh, tak berubah meski aku lahir, tak berubah meski aku masuk sekolah dasar. Bahkan bisa dibilang kalau keadaan keluarga kami semakin hancur meski kebutuhan ekonomi tercukupi."

"Sekali, bahkan sekali, sekali saja tak pernah aku bahagia bersama ayah dan ibu. Aku tak pernah tertawa bersama mereka, aku bagaikan pembawa bencana bagi hubungan mereka. Tapi jika menengok lebih jauh, aku ada karena mereka membuatku ada, dan kekacauan keluargaku ada karena bisnis membuat kekacauan itu ada, " aku semakin terlarut dalam emosi, tapi mungkin karena emosi inilah, dia mendengar ceritaku dengan hatinya.." Siapa yang patut kusalahkan? Bisnis? Orang tua? Kakek? Atau kerabat? Aku menanyakannya, dan menyimpulkan kalau semua sama saja, aku benci semuanya. Aku benci mereka, aku benci hidup ini." tambahku.

dia tetap terdiam, mencoba mendengarkan dan mencermati kata-kataku, kurasa sedikit tenaganya mungkin terkuras akibat menahan rasa ingin menenangkanku. Tapi kurasa dia cukup tahu kalau ketenangan bukanlah hal yang kubutuhkan.

"Aku selalu iri, melihat anak-anak lain bisa bahagia bersama orang tua mereka. Ketika aku lulus SMA, kupikir mereka akan kembali seiring berakhirnya perjanjian itu, atau setidaknya aku bisa bahagia dengan salah satunya jika mereka memang harus bercerai. Tapi ternyata tidak, " aku mengentikan ceritaku, dan menatap kembali kamera CCTV di pojokan yang sedari tadi mengawasi kami, " Kau tahu kenapa?" aku membuang wajahku dari hadapannya.

"Kenapa?" ia balik bertanya.

aku kembali mengawasi lampu jalanan, laron dan beberapa serangga pencari cahaya beterbangan di sekelilingnya, " Di persidangan, mereka saling lempar hak asuh anak. Ayah dan ibuku saling tak menginginkan kehadiranku di sisinya. Mereka berkata dengan jelas tak mau mengasuhku di depan persidangan. Hanya dengan alasan aku sudah besar dan dewasa. Keluarga ayah diam karena memang merasa lebih baik kalau ayah menolak keberadaanku, begitu pula keluarga ibu, hakim juga turut terdiam karena tak bisa melakukan apa-apa." aku menceritakan keluh kesahku kepada wanita ini, padahal aku belum sepenuhnya tahu siapa dia.

"Bukankah di pengadilan anak yang sudah dewasa bebas memilih ikut ayah atau ibu, dan hakim berkewajiban menuntut jika orang tua menolak?" ucapnya.

"Ya, itu cara satu-satunya yang diputuskan hakim, tapi, jika kau saat itu menjadi aku, apa yang akan kau putuskan?" aku balik bertanya, tanganku benar-benar bergetar kesal mengingat hal itu.

dia diam, tapi aku masih menunggunya, sampai lima detik berlalu hingga akhirnya dalam satu desahan napas yang tersengal, " Aku tak akan memilih siapapun, pergi dari persidangan dan tak pulang sampai kapanpun." ucapnya menunduk penuh kesadaran.

jawabannya benar.

"Ya, sekarang aku hanya menetap di rumah kos murah di distrik sebelah." aku sedikit kelepasan soal tempat tinggalku, tapi biarlah, " Aku pergi dari persidangan, dan pergi dari hidup mereka, aku bersumpah tak akan kembali. Aku akan ingat sampai kapan pun saat-saat itu, untuk mengubah dunia dengan mencaci makinya."

aku menarik napas, " Aku lahir dengan kebencian ayah dan ibuku, aku dibesarkan tanpa kasih sayang, dan begitu aku cukup dewasa dalam berpikir, aku menanyimpulkan bahwa tak seharusnya aku hidup. Aku seharusnya tak pernah ada."

sepertinya ia tahu kalau aku akan segera mengakhiri cerita ini, ia seperti menyiapkan suatu kalimat untuk mengubahku. Tapi aku dan dia memang berbeda, dia pernah tumbuh dengan kebaikan, tapi aku tak pernah, aku tak akan semudah itu berubah dari jalan yang selama 20 tahun kulalui.

aku masih harus melanjutkan cerita ini, " Kau pernah melihatku menyelamatkan kucing liar kan?" aku mengulangi masalah yang satu itu, " Aku menyelamatkannya bukan karena kasihan atau juga menganggap nyawa itu berharga. Aku hanya menganggap nyawa kucing itu lebih dibutuhkan dibanding nyawaku yang seharusnya tak pernah ada di dunia ini. Dia lebih pantas hidup dan aku lebih pantas mati, begitulah."

aku benar-benar telah menyelesaikan apa yang ingin kukatakan. Telapak kakiku sudah dingin sedingin udara yang malam hari ini menyelimutiku, lalu aksi saling diam kami membuat udara semakin dingin. Aku sempat mengira ini adalah akhir pembicaraan kita, karena ia juga tak mengucap apa-apa untuk mencegahku atau menolak pemikiranku.

satu menit, waktu yang terlalu lama untuk diam. Aku langsung berdiri atau akan membeku dengan kaos dan celana pendek seperti ini, " Setidaknya kita sudah saling bicara dan harapanmu sudah terkabul, lekas pulanglah."

"Tidak, kenapa kau harus pergi?" dia bertanya, itu pertanyaan kuno, dan jika ia terus-terusan menahanku dengan pertanyaan seperti itu, tak akan banyak yang akan menahanku." Sejak kecil, kau menginginkan kebahagian, tapi sekarang, saat kau menemukan cara untuk bahagia, kau terus saja lari dan sembunyi."

"Bukan urusanmu, " aku menegaskan, seharusnya ia tahu kalau pergi ataupun tetap di sini, itu adalah urusanku, bukan urusannya, " Kau ataupun yang kau tawarkan itu juga belum tentu akan membuatku bahagia, bahkan ada kemungkinan membuatku semakin menderita."

"Itulah satu-satunya kesalahanmu, sepele, tapi ternyata imbasnya sangat berdampak pada keseluruhan hidupmu." tangannya memegang tanganku dan menarik tubuhku agar kembali duduk di sampingnya, " Aku akan balas budi, bagaimana pun caranya."

inilah yang kutakutkan, ceramah seorang wanita, dan wanita itu punya jalan hidup yang mirip denganku tapi bisa kembali meraih kebahagiaannya. Aku merasa diri ini kecil jika dihadapkan pada situasi seperti sekarang. Aku tak bisa berbuat banyak. Kamera CCTV ini akan merekamku jika aku memukulnya, tapi aku yang akan terpukul jika aku terus di sini, dan kamera itu tak mampu merekamnya.

"Jika dengan belajar saja bisa membuatmu membenci sesuatu yang kau cintai, kenapa sekarang kau tak belajar mencintai sesuatu yang kau benci?" serangga apa sebenarnya yang telah masuk ke otaknya? Aku penasaran, dari mana dia bisa berpikiran aku bisa melakukan hal mustahil itu, " Aku tak menyuruhmu memaafkan siapapun, itu akan sangat mustahil, bahkan aku sendiri masih belum memaafkan siapa pun termasuk ibuku. Hanya saja, " ia kembali memutus apa yang ingin ia utarakan.

jika benar Daisy ingin balas budi, mungkin harusnya ia bisa membiarkanku pergi darinya dan berjanji tak akan menemuiku lagi, aku akan sangat senang, dan bukan dengan menasehati atau juga menunjukkan apa yang benar bagiku. Kebenaran selalu pahit, dan ia bermaksud memberiku rasa pahit itu, jangan bercanda!

"Aku hanya ingin memintamu untuk belajar mencintai sesuatu." ia menggeser tubuhnya dan duduk di hadapanku, kami saling bertatapan, meski dengan satu kaki, ia bisa bergerak lincah saat duduk, " Jika kau tak bisa mencintai bisnis, orang tua, dan juga hidupmu atau bahkan hidup orang lain, kenapa kau tak belajar mencintai satu saja hal yang membuatmu bahagia dan cobalah untuk melindungi hal itu. Hiduplah untuk satu hal saja." matanya menyiratkan kesungguhan yang jika aku mencoba memasukkan ujung jariku ke dalamnya, aku yakin aku akan merasakan lebih dari sekedar harapan untuk menemuiku ataupun balas budi, itu semua palsu, ia pasti bohong tentang balas budi. Aku merasakan semua hal rumit saat ia menatapku.

"Tidak ada hal seperti itu, aku tak pernah punya kebahagiaan yang pantas untuk kulindungi, semua kebahagiaan yang kupunya selalu saja egois dan pergi meninggalkanku begitu saja." aku malas berpikir macam-macam, hanya itu kejujuran yang kupunya, dan hanya itu hal yang tersisa dari diriku. Menyedihkan.." Tapi, "

aku menundukkan kepala, dan ia semakin gencar menyudutkanku dengan tatapan-tatapan itu. Aku telah jatuh dalam permainannya, itu berarti dia sudah menyusun kata-kata itu untuk mempermainkanku saat kita saling terdiam tadi.

tapi sebenarnya mulut ini juga punya opsi untuk tak bicara lebih jauh lagi, aku heran kenapa ia tak kunjung berhenti, " Tapi, aku rasa aku sedikit bahagia saat aku merasa punya kawan yang memiliki kisah hidup serupa, dan berbicara banyak denganmu." apa sebenarnya yang aku ucapkan ini sih?

"Biar kulanjutkan, karena kau mungkin tak menyadari satu hal ini, " ia menyela.

"Apa itu?"

"Itu bukan sedikit bahagia, tapi sangat bahagia, dan karena sangat bahagia itu kau jadi benci tetap berada di sini, kau ingin pergi dari sini." ia kembali mengarahkan tangan kanannya kepadaku, " Aku tak akan mencampuri pikiranmu lebih dari ini, kau pasti sudah tahu segalanya yang terbaik, tapi aku hanya bisa memberi ini sebagai salam perpisahan. Dan setelah itu, pikirkanlah baik-baik."

tangan yang ia arahkan itu kosong, ia tak memberi apa-apa padaku. Aku mengawasi jeli tangan yang masih bergerak ke arahku.

tapi ternyata ia hanya menjabat tanganku, kembali seperti saat kami berkenalan padaku, " Pejamkan matamu, dan rasakanlah bagai mana tangan ini akan selalu menerimamu."

ini adalah malam, tapi sekarang kehangatan mencoba meluap saat ia menjabat tanganku, aku merasakannya. Dan mataku terpejam dengan sendirinya, menyisakan semburat phospen saat sinar lampu itu menembus kelopak mata.

indah sekali.

dan menyenangkan, apa inikah hal yang ia katakan tadi? Yang harus kulindungi? Yang harus kupelajari untuk mencintai?

ya, mungkin aku harus mencobanya.

-end-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman?

Dark Path

Andai saja aku tau