Soundless Voice
Genre : Angst.
"Yo." sapaku dengan satu senyum lebar.." Apa kabar?." entah kenapa, dua patah kata itu terasa lebih berat dari yang biasanya.
"Aku baik-baik saja." gumamku.." Tentu saja. Bukankah sudah kukatakan padamu?" aku terkekeh pelan." Jangan khawatir. Aku akan selalu baik-baik saja."
Kutarik napas pelan, mulai terasa menyesakkan. Apa bedanya hari ini dari tahun lalu? Dan juga tahun sebelumnya?
"Hei, apa perasaanmu masih sama?" tersenyum simpul.." Karna perasaanku tak berubah sedikitpun."
"Ha-ah.. Sekali pun kau mengomeliku sekarang karena hal itu, tak ada yang bisa kulakukan untuk mengubahnya. Kau yang paling tahu, kan? Seberapa keras kepalanya aku. Jadi, ayo omeli aku sepuasmu."
"Doushite?" ku angkat kedua alisku.
"Jangan bilang kau sedang malas atau terlalu lelah untuk mengomeliku." melipat kedua lengan di depan dada.." Karna kau tau, itu tidak akan berpengaruh padaku. Perasaan ini di luar kuasaku untuk mengendalikannya. Jadi sekalipun kau tetap diam dan tak menjawab sepatah kata pun dan masih terus mengabaikanku, kurasa kau masih harus berusaha lebih keras untuk mengubah apa yang kurasakan."
"Humm..." kupegang daguku, pose berpikir.." Mungkin jika kau memukul kepalaku keras-keras sampai amnesia, kau akan berhasil." Kuacak sedikit rambut belakangku.." Oh. Tapi sayang sekali, kau juga tidak bisa melakukan itu. Hahaha..." sebuah tawa sumbang.
Kuusap wajahku pelan. Basah. Apa gerimis sudah turun?
"Kau tak tahu saja." ucapku lirih." Kau tidak tau, seberapa inginnya aku dipukul keras-keras olehmu. Berkali-kali. Beratus-ratus kali. Sebanyak yang kau inginkan. Aku bahkan tidak akan mengaduh atau mengelak." sesuatu seperti mengganjal di kerongkonganku.." Jadi... Jadi ayo pukul aku..."
Kutundukkan kepalaku, terkekeh pelan.
"Jangan katakan kau sedang malas atau lelah lagi."
"..."
"Hei..."
"..."
"Kau masih marah padaku?."
"..."
"Aku merindukanmu." Ku gertakan rahang.." Sangat. Sangat. Merindukanmu." suaraku menghilang.
Kutelan ludah yang terasa sekering pasir.
"Kau tau.." menggigit bibir bawahku yang bergetar.." Rasanya menyakitkan."
Satu tetes, terjatuh.
"Aku tak terluka. Tak ada yang melukaiku."
"... Tapi rasanya sangat menyakitkan."
Setetes lagi. Dan tetes berikutnya.
"Aku merindukanmu."
"Aku merindukanmu."
"Seberapa banyak harus kukatakan itu agar kau dengar?."
"..."
"... Katakan sesuatu..."
"..."
".. Apa saja.."
"..."
"Aku ingin mendengar suaramu. Sekali saja. Hanya sekali saja.."
Dan tetes berubah mengalir.
"... Kumohon..."
"..."
Sesak. Sesak. Sesak.
Rasanya sangat menyesakan.
Susah payah, kutarik napas pelan.
Tarik. Hembuskan.
Jangan lupa bernapas, kuingatkan diriku sendiri.
Terkekeh pelan. Ku usap wajahku sekali lagi. Gerimis jatuh lembut, membasahi rerumputan.
"Setelah selama ini pun aku masih tidak bisa berubah."
Sedikit tersenyum. Sesuatu terasa di bebankan di atas tubuhku. Berat. Sesak.
"Kurasa kadar kebebalanku bertambah, iya kan?"
Kutarik napas dalam-dalam, ingin sedikit melegakan dadaku.
"... Aku mencintaimu..."
"..."
Lagi. Terkekeh pelan, tawa pada diri sendiri.
Apa yang kutunggu? Selama apa pun menunggu, suara itu tak akan sampai padaku. Tak akan ada yang membalas kata-kataku.
Tak ada lagi...
Kenyataan itu menghantamku dengan cara yang menyakitkan. Kuremas bagian depan kemejaku hingga kusut.
Berapa kalipun, aku masih tidak bisa terbiasa dengan rasa sakit ini.
Mengulurkan tangan, kutaruh krisan putih itu dan kuusap nisannya pelan. Satu senyum lembut dan pedih.
".. Aku mencintaimu.."
.
.
.
End.
Btw, buat yang masih belum paham dia lagi ngomong sendiri.

Komentar
Posting Komentar