Teman?

Friendship , tragedy

Aku benci ini, posisi ini membuatku berpikir apakah waktu yang selalu sangat kuhargai ini mengalir layaknya kutukan medusa yang membekukan jiwa mata yang memandangnya, jantungku berdebar meski napasku mengalir lancar. Guratan wajah poker face yang kuhadapi sekarang ini masih mampu kulayani dengan wajah poker face yang serupa.

Tapi sampai kapan kita saling menodongkan senjata seperti ini?

Aku dengan revolver-ku telah menghujamkan beberapa peluru kepada beberapa kolega setianya untuk sampai di depannya dan menodongkan kematian padanya, tapi dia tak kalah beringas dengan
pistol yang ia todongkan padaku saat ini, mantan seniorku telah merasakan bagai mana sebuah perkakas mesiu bisa menyebabkan sebuah luka yang membuatnya menyudahi aksi pengejarannya.

Bau mesiu ini menyengat dan membuat kegundahan tersendiri dalam aksi diam kami, senyumnya yang ramah setengah sombong benar-benar sama seperti dulu, dan yang lebih menjengkelkannya, senyumannya yang sekarang lebih cocok dengan tangannya yang memegang Mark-23.

Nafas berat ia hembuskan, ia juga lelah pada keterbungkaman ini, " Lalu, apa yang kau inginkan dariku?"

Sebenarnya kita sama-sama tahu bahwa sangatlah tak sopan bertanya dengan menodongkan senjata, tapi mungkin jika aku memang menginginkan masalah ini selesai, maka pastinya akan ada banyak kesopanan lagi yang harus kulanggar.." Aku hanya ingin menegakkan hukum dan keadilan." Lidahku lebih tangguh dari pada tanganku yang kurasa sangat berat untuk terus-terusan menodongkan revolverku padanya.

"Hukum itu lemah, dan manusia itulah yang selalu meminjamkan kekuatannya melalui keberanian dalam kejahatannya. Itulah yang disebut kekuatan. Keadilan yang kalian anut berdiri di atasnya."

"Kau benar…" bukan sebuah hal buruk untuk membenarkan sesuatu yang dibenarkan orang lain, dan menurutku aku juga bukan orang yang berhak menghakimi pendapatnya.." Tapi bukan hanya itu, hukum adalah kejahatan yang tegak berdiri atas nama cinta. Sedangkan dendam hanyalah kejahatan yang tegak berdiri di atas cinta yang telah kelihatan penglihatannya. Tak lebih dari hukum yang buta. Karenanya, kalian pasti akan terus menegakkan hukum yang buta itu bahkan kepada orang yang tidak berdosa. Bedakan keduanya, saat kau merasakan kemenangan di atas nyawa yang melayang, itu bukanlah keadilan."

"Bukankah itu berarti keadilan kita serupa? Yang berbeda hanyalah strukturnya dan penegaknya saja kan?" ia mulai tersenyum lebih lebar, matanya seakan berniat mengulur waktu. Tapi aku tak yakin dia sebodoh itu karena dialah yang akan lebih terancam seandainya waktu terbuang lebih lama.

Ada yang salah dari permainan ini, " Dalam kamus kami, tidak ada keadilan yang membunuh. Mereka yang mati dalam tegaknya keadilan kami, disebut dengan orang-orang yang terbebas."

"Kalau begitu, bisakah kau membedakan antara aku yang memegang pistol dan kau yang memegang revolver? Salah seorang dari kita akan terbunuh saat salah seorang yang lain dicap pembunuh. Tak ada bedanya. Jika hukum yang kau anut tak menghasilkan pemenang ataupun pecundang, aku akan menyerah sekarang juga. Tapi itulah masalahnya, bukankah jika aku menyerah maka akulah yang kalah dan kaulah yang menang? Jadi hukum seperti apa yang kau anut?"

Kepercayaan diri itu, andaikan aku juga memilikinya, mungkin aku bisa mengambil alih permainan ini, hanya pemikiranku yang berkembang dibandingkan dulu, dan itu tak cukup tangguh untuk melawan orang yang mengerti betul tentang aku.." Ini mengingatkanku tentang sesuatu… apa kau ingat ultraman?"

Dia berpikir sejenak, ia pasti tahu jawabannya, tapi untuk mengerti apa yang kupikirkan pasti membutuhkan waktu baginya. Pistol itu tetap terarah padaku. Dan akhirnya senyum yang kutunggu-tunggu kembali ia perlihatkan. Ia terlihat bangga sekarang ini, " Kau cukup aneh hari ini, kau beruntung aku bukanlah orang bebal."

"Karena itu aku tetap menjadikanmu target meski tak lagi menjadi pihak yang berwenang mengurusi semua tindakanmu." Aku sedikit lega untuk saat ini.

"Jadi, kau mau permainan seperti apa?" ia bertanya.

"Ini negara demokrasi, jadi kenapa tidak kita jawab saja pertanyaan ini bersama-sama?"

"Baiklah… 3… 2…" ketika ia menghitung mundur, aku tahu apa yang akan dia katakan, begitu pun dia, pasti tah apa yang akan aku katakan. Aku menyiapkan napas, " ...1."

"Permainan di mana kaulah yang akan kalah!" ucap kami berbarengan.

***

12 tahun lalu…


Hidup hanya menahan kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Kekalahan adalah hal yang paling kubenci, untuk beberapa hal, kekalahan pernah membuat jantungku remuk, mataku menghitam, dan putus asa. Kekalahan adalah suatu hal yang tak perlu di rasakan dalam hidup ini, aku sempat berpikir demikian, bahkan untuk orang-orang yang tak mengusahakannya juga. Pujangga masa lalu pernah membuatku hidup dalam resah saat aku membaca satu bait pusinya, terlebih aku juga hanya bersekolah di SMA yang bisa dibilang tak ada bagus-bagusnya. Hanya saja, aku juga punya rasa syukur yang besar bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar berharga, seorang sahabat, bersamanya, aku bisa benar-benar berbahagia menjalani sebagian hidupku sekolah ini, namanya Ilham. Dia sempurna, cerdas, hidup berkecukupan dan ramah, hanya saja dia sangat jarang tersenyum. Dia pernah bilang ia terlihat sombong saat tersenyum, dan memang iya, tapi kurasa itu masih lebih baik dibandingkan tidak tersenyum atau memasang senyum palsu.

Di malam kelulusan ini, aku rasa udara tidak begitu dingin, dia menginap di rumahku karena kami saling berpikir mungkin malam inilah kami bisa bersenang-senang bersama. Lusa adalah hari di mana ia tak lagi akan berada di kota ini, dan lima hari setelahnya aku juga akan meninggakan kota ini. Kota tujuan kami berlawanan arah, dan google maps memperkirakan jaraknya bisa mencapai 270 km.

Hanya karena Liverpool adalah tim yang menjuarai liga Champion, bukan berarti ia akan bisa mengalahkanku dengan mengguIlhamn team itu saat bermain PES*, dia bahkan memakai tim itu terus menerus. Dan kalah terus menerus. Juga menyalahkan stick terus menerus.

"Ha, memangnya game seperti apa yang ingin kau mainkan?" tanyaku ketika dia dengan senyum sombongnya meminta ganti game.

"Hmm, tentu saja…" dia merebut stick player 1 dan mulai memilih Guitar Hero, " Permainan di mana kaulah yang akan kalah…" dan senyum itu mulai terlihat menjengkelkan. Padahal kata-kata itu sudah sering ia ucapkan, terakhir kali dia mengatakannya adalah 20 menit lalu, saat dia memilih PES ini. Tapi dia masih bisa tersenyum begitu saat mengucapkannya, benar-benar percaya diri.

Lima menit berlalu, satu lagu berakhir, aku tak menyangka dia akan mengalahkanku dalam permainan ini. Dua kali percobaan, tiga kali bahkan sampai percobaan yang kesekian kallinya, aku masih belum bisa mengalahkannya, dia begitu tangguh. Melihat senyumnya, dan wajah gembiranya, aku yang sangat terobsesi kemenangan mulai merasakan sesuatu yang indah dengan melihat sesuatu lebih jeli saat berada di lubang kekalahan. Hanya sekali ini, aku merasakan kekalahan tak begitu pahit, sampai-sampai aku merasa ini bukanlah sebuah kenyataan, karena yang kutahu kenyataan hanya akan menuntun kita dalam kekalahan.

Hidup bukan sekedar menahan kekalahan, aku yakin itu.

Tak ada malam yang panjang ataupun malam yang pendek untuk sebuah malam yang tetap membuat kita terlepas dari pengawasan mentari, tapi aku yakin mentari lain telah kudapatkan pada hari ini. Hanya saja, tidak untuknya, tidak ada yang menyangka justru di malam inilah dia mendapatkan alasan untuk kehilangan mentarinya.

Keesokan harinya, wisuda dimulai pagi hari dengan memperkirakan waktu yang molor. Karena perbedaan nomor induk yang jauh, tempat duduk Ilham dan aku saat wisuda pun terpisah jauh, dua orang di sampingku dua-duanya adalah cewek, ironisnya, mereka selalu berbincang-bincang satu sama lain tanpa menghiraukanku. Membuatku sangat canggung dan salah tempat.

Kulihat Ilham bertingkah dengan sangat gelisah sambil berkali-kali menoleh ke tempat di mana para orang tua atau wali duduk, tapi, karena tempat duduk wali tidak di tentukan, kurasa dia hanya sedang mencari ibunya di antara kerumunan orang-orang itu. Aku sangat kaget saat tahu langsung setelah prosesi wisuda selesai, Ilham langsung tak kutemukan, padaha acara wisuda sendiri belum sepenuhnya berakhir.

Dia hilang, aku ingin menghubunginya, dan sialnya, tak akan semudah itu, dua orang cewek yang cerewet ini membuatku berpikir menghubunginya sekarang sangatlah tak sopan. Jadi, hanya SMS ini yang bisa kukirimkan. Bagaimanapun, aku takut tanggal kepergiannya diganti sekarang.

"Ke mana? Wisuda belum selesai…"

Aku kirimkan pesan itu dan tak lama setelahnya SMS terkirim, aku kembali menyimak sambutan pelajar terbaik yang pidatonya hanya berisi ajaran ideal yang khayal, dunia ini kembali menjadi membosankan.

Drrt.. Drrrt.

Sebuah telepon masuk, dari Ilham, ponselku akan terus bergetar sampai aku mengangkat telepon ini, dan dua cewek ini masih belum puas mengobrol. Aku heran dengan mereka, kenapa sedari tadi tak kehabisan bahan obrolan, sih?

Aku tak peduli lagi pada mereka, segera kutekan tombol di ponselku, dan pembicaraan terhubung.." Ya, halo… Ilham?"

"Nah… jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan?" jawab seseorang dari panggilan ini dengan suara parau. Hal yang ia sebutkan belum menjawab ke mana dia pergi, dan bagiku, terus di sini pun akan tetap percuma, hanya akan menambah pertanyaan dengan pertanyaan lain yang tak akan mungkinku jawab.

Satu tujuan aku meninggalkan tempat ini, rumah Ilham, karena telpon itu telah berakhir tanpa sempat kutahu ke mana dia berada. Aku berusaha keluar dari aula sewajar mungkin. Mungkin hanya aku yang merasa terlalu khawatir, tapi entah apa pun itu, aku berharap langkahku kali ini akan membuatku tenang. Aku tak betah lagi duduk di aula dengan rasa gelisah yang katanya akan berdampak pada penurunan usia.

Lalu saat rumah Ilham tepat di depan mata, sebuah retakan di kaca depan ruang tamu sangat mengganggu pandanganku, pintunya terbuka sedikit, mungkin dia sudah sampai sini dan masuk ke dalam. Yang jadi pertanyaan adalah apa hubungan kaca yang pecah ini dengan kata jika aku menjadi dia dalam percakapan telepon tadi.

"Permisi?" padahal dalam kondisi biasa, aku tak pernah mengucapkan permisi saat masuk rumah ini, orang tua Ilham sudah terbiasa dengan kehadiranku kemari. Tapi, tak ada yang menyahut, padahal setidaknya aku yakin Ilham pasti telah sampai.

Bau anyir tercium, ini bau hemoglobin darah manusia yang tercampur oksigen di udara, aku tahu, karena saat aku terpleset dari tangga dan dahiku berdarah, aku juga menciuum bau yang sama, tak salah lagi.." Ilham…" ada yang tak beres di rumah ini.

Wiiuuuuu… wiiuuuuu…

Sirine itu berhenti di dekat rumah, tapi aku tak melihat mobil itu. Suara mobil ambulance? Ataukah polisi? Aku tak tahu, hanya saja, tak mungkin mobil ambulance datang lebih dari satu untuk kampung kecil ini, dan aku berharap bukan pula mobil polisi, karena jika itu benar, berarti situasi Ilham kali ini benar-benar buruk.

"Ya ampun, aku tak menyangka akan ada kondisi segawat ini yang terjadi hanya dalam satu malam." ucap Ilham saat aku berhasil menemukannya bersandar di.
pintu dapur, air mata mengalir dari matanya, tapi tak ada tangisan di wajah itu. Dan bau anyir ini semakin tercium menyengat.

"Apa yang terjadi?" tanyaku, aku belum melihat bentuk kondisi yang gawat kecuali bau ini dan kaca yang retak di depan.

"Sekarang, kita keluar… aku akan menjelaskan semua yang kulihat di sini kepadamu dan polisi di luar." ia mengusap air matanya, dan seketika, wajahnya kembali seperti biasa. Meski pun dia mengatakan seolah-olah ini adalah kenyataan, tapi aku tahu, dia masih belum sepenuhnya percaya terhadap apa yang telah ia lihat, apa pun itu, aku bisa menebak kemungkinan terburuk dari hal yang semoga hanya jadi mimpi ini.

"Kau ingat sebait puisi yang pernah kau tunjukkan padaku?" ucapnya di tengah rasa depresi kali ini, ia telah menceritakan semuanya pada polisi, dan padaku, aku heran dari mana dia mendapatkan ketenangan ini.." Apa kau masih mempercayainya?" pertanyaan macam apa itu? Kalau boleh bilang, aku lebih tak mempercayai dia masih bisa bertanya seperti itu saat ini.

Rumahnya kerampokan kemarin malam, saat dia menginap di rumahku, kedua orang tuanya tewas beserta kakak perempuannya. Uang pendidikan yang akan ia gunakan untuk melanjutkan pendidikan di luar kota hilang, dan tak ada tangisan. Senyum sombongnya malah terlihat jelas. Ia mungkin merasa percuma menangisi hal yang tak mungin berubah, dan mungkin saja ia juga merasa tak enak menangis di dekatku, tapi bukankah manusia di anggap sebagai makhluk yang sempurna karena memiliki emosi dan tangisan?

"Masih belum ada alasan melupakannya." Aku berharap jawabanku sesuai dengan apa yang ingin ia dengar.

"Hidup hanya menahan kekalahan, tapi karena kekalahan adalah sebuah kepastian, maka kemenangan adalah hal yang paling diburu. Orang-orang yang memburu kemenangan tersebut menamakan usahanya dengan perjuangan, dan jalan yang mereka pilih untuk berjuang, itulah kehidupan."

"Kenapa kita membahas ini sekarang?" -aneh- bukan kata yang tepat untuk menggambarkan sikapnya sekarang, sikapnya ini lebih mengarah kepada hal yang menakutkan.

"Karena tidak ada kata untuk nanti… besok, aku tetap akan pergi dari kota ini." Dia gila, mungkin juga aku yang gila, tapi sangat pilu rasanya mengetahui diriku punya peran dalam kegilaan ini. Jadi, siapa sebenarnya yang gila?

"Lalu apa maksudmu membahas itu?"

"Aku ingin kau meyakini apa yang kuyakini. Tak lama setelah ini, pelaku perampokan ini akan segera tertangkap, aku, saudara dari ayah dan ibuku tak akan memaafkannya, tapi hanya akan ada satu yang memaafkannya, dia adalah hukum di negeri ini."

Aku mengerti maksudnya, ia bermaksud menjelaskan bahwa karena kekalahan adalah kepastian, maka perjuangan yang sampai mengalahkan seseorang juga akan disebut sebagai toleransi. Hukum akan memaafkannya dengan sebuah saksi yang tak sepadan kalau ini sudah bicara tentang toleransi, dan tak akan banyak yang bisa ditentang. Aku mengerti maksudnya, dan jika itu adalah keyakinannya, kurasa aku tak perlu sependapat dengannya. Aku menundukkan kepalaku.

"Aku tak bisa ikut meyakini itu denganmu. Karena mnurutku itu bukan berarti hukum menerima perilaku mereka…" balasku.

aku lebih ingin membiarkan kepalaku dingin terlebih dulu, mengambil keputusan saat kepala panas hanya akan membuat pemikiran yang mudah terbalik-balik. Aku harap, jika dia memang tetap pergi esok hari, itu juga merupakan hal yang ia pikirkan matang-matang.

"Yang kedua adalah, kau ingat ultraman? Mereka menghajar monster, mengalahkannya, dan setelah itu, menghilang tanpa pernah memperbaiki kerusakan kota saat ia melawan monster. Penonton pun tak pernah memikirkan hal itu, karena pastinya seandainya si monster tidak di hajar, kerusakan yang ditimbulkan akan lebih besar. Aku kira hukum harusnya berjalan seperti itu, dan si penghukum harus menghilang setelahnya, tanpa pernah terlihat lagi. Dan jika seandainya datang monster lagi, maka ultraman yang lainlah yang datang menghajarnya."

Dan sekarang, melalui tontonannya masa kecil, ia bicara mengenai paradoks keadilan yang tak sepenuhnya bisa kukomentari. Tapi andaikan aku berada di posisinya, mungkinkah paradoks tersebut juga terpikir olehku? Kata-katanya menghujam, membuat pikiranku semakin penuh. Aku ingin menghentikannya kalau bisa, tapi dia butuh bicara, dan untuk bicara, haruslah ada lawan bicara.

"Kalau begitu, jika semuanya benar terjadi, biarlah aku melangkah pada keyakinanku sendiri."

Dia tersenyum, dan aku membalasnya dengan senyum seakan semua hal hanya menunggu untuk terlupakan, asalkan kita tetap melangkah. Dia menerima ketidak sanggupanku, sedangkan aku menerima pendapatnya untuk kuperhitungkan.

"Aku tetap harus pergi besok, tapi kau masih belum terlambat untuk mengubah arah. Jika kita bertemu lagi, ulurkan salammu padaku ya…"

***



Tapi bukan salam yang kita ulurkan saat ini, melainkan tinju dan peluru. Aku berkali-kali menghindari peluru yang ia lepaskan, dan aku juga berkali-kali menujukan pukulan demi pukulan saat peluru ia lepaskan. Titik lemah pistol adalah saat ia melepaskan peluru, ada waktu cukup untuk memukulnya saat pistol menyiapkan tembakan selanjutnya, berbeda dengan revolver. Tapi ia masih tanggap menghindarinya.

"Tak kusangka prediksi tak berdasar yang kau ucap waktu itu benar, pelakunya tertangkap dan dijatuhi sanksi yang benar-benar tak sepadan. Tapi setelah tahun berlalu, namamu juga melambung tinggi sebagai pembunuh tahanan yang bebas setelah terlibat kasus kriminal berat."

Kita sudah sama-sama lelah, dan peluru pistolnya pun sudah habis. Aku masih siap sedia dengan revolverku. Dia hanya menghembus napas panjang. Sebagai reaksinya.

"Sudahlah, buang saja benda itu, aku tahu revolvermu juga sudah kehabisan peluru. Revolver yang kau pakai itu kapasitasnya 6 peluru, 3 tembakan di bawah, dan 3 tembakan untuk menghentikanku tadi, kurasa tak ada lagi peluru yang tersisa." ucapnya percaya diri, pendengarannya cukup jeli, bahkan bisa membedakan sara tembakan pistol mantan atasanku dengan revolverku.

Yah, itu di luar dugaanku, tapi, " Kau juga, berkali-kali dengan sengaja menembak meleset dari sasaran kan? Kau bertujuan menghabiskan peluru pistolmu di sini entah dengan tujuan apa."

"Kalau begitu, bagai mana denganmu yang masih menyimpan derringers di saku celana tapi tak kau gunakan?" bantahnya, dan memang, senjata cadangan itu memang ada di saku celanaku, tapi tak ada niatan sama sekali bagiku menggunakannnnya sekarang.

"Lalu, kau juga mengulur waktu di sini, padahal kalau terus di sini dan melepaskan tembakan, kepolisian akan dengan mudah menemukan kita. Sepertinya kita sama-sama tak berniat saling membunuh ya?"

"Kau benar, kita sama-sama mengingkari aturan pertarungan ini." dengan ringannya ia membenarkan, dan mulai membuang pistol itu ke lantai, " Tapi kau tahu, aku memang berniat mengakhiri kegilaan ini bersamamu tanpa ada salah satu dari kita yang harus kecewa atau takut, lebih-lebih mati. Tapi, tetap saja aku tak bisa kembali."

Aku ikut membuang revolver kosongku ke lantai, berbicara seperti ini cukup membosankan, tapi bukan berarti harus kutinggalkan, kesederhanaan dari sebuah ucapan lebih banyak mengubah perasaan dibanding memasang harga tinggi pada setiap idealitas diri sendiri.." Sebenarnya aku tak keberatan mati di tanganmu, karena itu, aku tetap memegang revolverku, itu agar kau tak ragu menembakkan pistolmu."

Itu adalah kebenarannya, bicara ataupun saling memaksakan hukum dan keadilan tak akan membuatnya kembali, dia benar, tak mungkin ada tempat kembali untuknya, kecuali dalam perkataan masyarakat naif. Karena itu, aku lebih ingin mengubah jalannya dengan darahku. Kukira ini satu-satunya jalan.

"Tapi selama kau tak lagi seorang polisi, aku akan ragu untuk menembakmu. Kau tahu sendiri kan? Prajurit yang kehilangan jabatannya hanyalah seorang pemberontak kalau di tangannya masih terdapat pedang. Jadi, mana bisa aku serius…"

Dia berjalan menghampiriku, pertarungan selesai. Kita sama-sama mengalami time-up, sama-sama kalah, aku gagal memberikan sahabatku tempat untuk kembali, dan dia gagal mewujudkan tujuannya untuk menciptakan paradoks hukum di tengah masyarakat. Bersamaan dengan itu, puluhan derap kaki melangkah beramai-ramai menuju tempat kami beraada. Suara sol tebal itu kuyakin adalah milik kepolisian, mereka sampai.

Satu bagian yang kulupa tentang paradoks keadilan yang jadi impiannya adalah…

DORRR…

Entah kapan ia mencuri derringers di kantongku dan menembakkannya pada jantungnya sendiri.

Darahnya mengalir tanpa bisa kuhentikan, " Apa yang kau lakukan, bodoh!!" dia tumbang, aku panik, darah itu juga mengalir sampai membasahi kepalanya sekarang. Matanya perlahan menutup, dan dengan perlahan, wajah yang menahan sakit tembakan itu kembali tersenyum sombong tanpa sepatah kata. Keringatku keluar tak beraturan.

"Ilham!!"

Aku yang bodoh, harusnya aku tahu kemana permainan ini bergulir, ia sengaja melempar pistol itu agar aku lengah dan mencuri derringers dariku saat aku terfokus pada kedatangan derap kaki itu, dia merencanakan semuanya dengan cepat saat mengetahui revolver-ku kosong." Aku kira hukum harusnya berjalan seperti itu, dan si penghukum harus menghilang setelahnya, tanpa pernah terlihat lagi." kata itu masih menjadi kalimat terakhir yang paling kusesalkan karena melupakannya.

Senyum sombong yang ia perlihatkan saat kesadarannya menipis itu seolah mengejekku yang kalah dalam strategi untuk pertama kali, sejak bergulirnya PES di masa remaja kami, baru pertama kali ini strateginya mengalahkanku. Dan untuk sekarang, masa muda benar-benar hilang. Kesenangan dan kenangan waktu itu telah berakhir sejalan dengan ketakutan ini, yang ada di kepalaku sekarang adalah." Cepat selamatkan orang ini!!" teriakku lantang pada mereka yang baru datang, yang terpenting adalah keselamatannya, dan akan kubayar meski dengan harga yang tak mungkin kubayar. Demi sahabatku.

*END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dark Path

Andai saja aku tau