Fools



***


"Kau tahu apa ini?" angin seolah memberiku berkah terbesarnya saat ia tersenyum padaku, jadi untuk senyum itu, aku memang telah menyuarakan sebuah janji pada diriku sendiri, bahkan tanpa diketahui si pemilik senyum yang eksotis dan menawan itu.." Kupu-kupu!" tapi semangat cerah darinya, dan juga janji ini, tak bisakah hei angin bagimu memberiku kesempatan untuk menepatinya?

"Biarkan dia bebas, Lusi…" aku bahkan masih belum mengerti apa arti kebebasan yang sebenarnya. Aku selamanya akan terikat cinta ini padanya, jadi mungkin akan lebih bijak andai aku menyuruhnya membebaskanku saja dibanding membebaskan kupu-kupu yang hidup tak lebih dari 7 hari itu.

Lusi mengerutkan pipinya seakan tak suka pada saran yang kuucap barusan, kedua tangannya masih belum bosan mengurung kupu-kupu itu di tangan mungilnya, " Kau selalu saja memintaku melepaskan hal-hal yang kusuka…" bukan begitu Lusi, kupu-kupu itu akan kian melemah andaikan ia tak mengecap kebebasannya… apakah kau masih suka kupu-kupu yang kehilangan sayap dan juga langitnya?

"Lupakan… terserah padamu saja." kenapa malah kata ini yang terucap dariku sih? Apakah aku memang selemah ini untuk sebuah kebenaran dan kebaikan yang akan membuatnya tak bahagia?

"Andaikan…" sambil mengucapkan kata itu, Lusi akhirnya membuka ke dua tangannya dan melepaskan kupu-kupu yang dengan cepat menghilang mengendarai angin.." Andaikan aku bilang aku menyukaimu, apakah kau akan membuatku melepaskanmu juga?" lanjutnya…

***

31 MARET 2021

Akibat cuaca yang sedang berangin, mereka bilang gangguan komunikasi akan lebih sering terjadi, aku tak tahu kenapa pada tahun ini angin masih saja berhembus kencang bahkan meski sebentar lagi adalah musim semi. Aku ingat kalimat terakhir dari ibuku melaLusi telepon tadi sebelum tiba-tiba telepon terputus, " Jaga diri baik-baik." Sebuah pesan sederhana dari orang tua yang jauh dari buah hatinya karena tinggal di luar negeri.

Bukan itu yang kupermasalahkan sekarang, aku pasti akan baik-baik saja berapa pun malaikat maut yang dikirim dewa padaku. Ya… mati sekalipun aku akan tetap baik-baik saja. Tapi ada sesuatu yang lain yang akan lebih kucemaskan saat ini, yaitu kecemasan itu sendiri. Akankah nanti kecemasanku akan menjadi kelegaan atau malah semakin lebam membusuk? Itulah yang kukhawatirkan karena aku sama sekali tak tahu akhir dari kecemasanku ini akan membawaku pada kehidupan yang bagaimana.

"Andaikan aku bilang aku menyukaimu, apakah kau akan membuatku melepaskanmu juga?" dan entah kenapa lagi-lagi pertanyaan Lusi terngiang di kepalaku. Angin sedang menderu lantang di luar sana, tapi sepertinya ingatan itu sama sekali berbeda dengan gangguan komunikasi seperti yang terjadi tadi, buktinya aku bisa mengenang jelas apa yang Lusi ucapkan waktu itu.

Bahkan aku terlalu pengecut karena lebih memilih bungkam… tapi andaikan saat itu aku mempunyai keberanian layaknya ketika aku meneguhkan janji itu, maka." Jika itu memang yang terbaik, kenapa tidak kulakukan?"

Aku mungkin bukan manusia pertama yang mengharapkan." Andai waktu bisa berputar kembali…" bahkan aku juga tak mungkin menjadi yang terakhir mengharapkannya, tapi itulah satu-satunya harapanku sekarang. Kuharap waktu bisa berputar kembali, sehingga aku bisa mencari tempat di mana cinta tak akan mengikatku pada pemilik senyum manis yang begitu kudambakan itu.

Harapan bodoh… oh tapi aku yakin setiap orang juga pernah memiliki harapan serupa… dan itu artinya, bukanlah tindakan bijak untuk menjadi orang bijak di tengah kehidupan yang bodoh.

TOK… TOK…

Tanpa peduli siapa pun yang melakukan kebisingan pada pintu rumah yang kutempati ini, aku melangkahkan kaki menghampirinya.." Iya, tunggu sebentar…" kurasa ini masih terlalu pagi untuk bertamu. Jadi bisa kusimpulkan kalau diseberang pintu ini pastilah orang yang sangat mengenalku…. Misalnya adalah, 

"Selamat pagi…" aku ingat tentang harapanku barusan, dan semoga saja dewa mendengarnya sekali lagi, Kuharap waktu bisa berputar kembali, sehingga aku bisa mencari tempat di mana cinta tak akan mengikatku pada pemilik senyum manis yang begitu kudambakan itu.

Aku masih terpaku untuk beberapa saat. Balutan lipgloss menjadi salah satu pembeda dari penampilannya yang biasa, dia memakai make up?

"Kau sudah menonton ramalan cuaca kan?" senyum itu… tak bisakah dia melepaskannya sebentar?

"Ah, maaf… masuklah! Di luar pasti dingin…" bahkan perlu sebuah sindiran darinya agar aku mempersilahkannya masuk.

Suara langkah kami menggema dalam perjalanan menuju ruang tamu, aku diam, Lusi diam, yang berbicara hanya keterbungkaman kami. Tapi, rasa dingin ini juga sedikit berbisik dan membuatku lebih merasa bungkam lagi. Jadi, di manakah keberanianku?

Mungkinkah di ruang tamu ini?

Lusi dan aku duduk berseberangan saling menghadap wajah masing-masing, seingatku sudah berkali-kali kita berhadapan hanya berdua, tapi kebungkaman seperti ini baru pertama kali terjadi. Dan andaikan di hari libur ini aku harus menghadapi waktu dengan diam bersamanya, akan sangat sakit rasanya bagi jiwa ini.

Kumohon Lusi, katakan sesuatu…

"Kalau dulu, paman pasti akan langsung membuat suasana seperti ini menjadi menyegarkan…" akhirnya ada sebuah kalimat yang keluar, tapi, itu tidak benar Lusi, sebenarnya ayah menjadi seperti itu karena keceriaanmu juga.." Maaf, aku menyinggung hal itu tiba-tiba… hanya saja kupikir kau selalu murung hari-hari ini, jadi aku mencoba ke sini agar kau tidak kesepian, dan…" ada apa? Kenapa berhenti? Teruslah bicara, agar aku tahu bagai mana cara mengakhiri kecemasanku ini.

"Aku tidak apa-apa…" cukuplah itu yang bisa kukatakan, karena aku memang sedang tak ingin mengencangkan ikatan rasa cintaku padanya melaLusi serangkaian obrolan manis seperti yang dulu tercipta.

Ia masih menatapku dengan senyumannya, dan itu menyesakkan, mengingatkanku pada sebuah janjiku yang tak lagi akan bisa kutepati, bagaimana pun aku mengusahakannya.." Kalau begitu, tersenyumlah…" tidak, Lusi… jika aku tersenyum, maka aku akan terluka… maka biarkanlah aku seperti ini.

Ya, setidaknya, dia juga tak akan merasa terluka andaikan aku tidak tersenyum kan? Hari ini, cukup senyum darinya saja yang akan membuatku menderita.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Sama seperti saat…." Kalau begitu, Lusi…" ah, ya! Kenapa aku tak mencoba memutar balikkan waktu saja?." Andaikan aku bilang aku menyukaimu, maka bisakah mulai saat ini kau pergi dari hadapanku?" benar, beginilah yang seharusnya terjadi… jadi dengan begini, mungkin malam nanti aku bisa tidur nyenyak tanpa perlu terbayang rasa bersalahku padanya.

Aku tak mampu melihat wajahnya, aku tak tahu ia sedang menangis, marah, kaget, ataukah kesal padaku, tapi aku sudah menyiapkan diri… aku sudah siap dibenci, jadi…

"Tapi kau tak mengatakannya kan?" jawabnya, aku mendongakkan kepalaku dan… dia tersenyum? Bagai mana mungkin setelah aku mengucapkannya dia masih bisa tersenyum seperti itu?

Dan memang aku belum mengatakannya, tapi apakah harus kukatakan? Apakah dia harus mendengarku mengatakan betapa terikatnya aku pada perasaan ini? Jika memang tidak perlu, aku masih bisa mengalihkan pembicaraan ini ke arah lain. Tapi saat ini, dia datang kemari tidak hanya menatapku sebagai teman sekolah atau yang lainnya, dia menatapku sebagai seorang pria. Balutan lipgloss itu buktinya.

Aku meremas erat tanganku, entah ini permainan yang dia gulirkan ataukah permainan yang kugulirkan, aku harus menuntaskannya…." Aku menyukaimu… jadi kumohon, jangan temui aku lagi." Kembali aku menundukkan kepala.

Sudah terdengar sangat jelas kan? Entah bagai mana pernyataan itu terdengar di telinganya, kuharap dia segera menjauh dariku.

"Tapi…" ia membuka suara, " Aku juga menyukaimu, lalu kenapa kita harus berpisah?"

Apa barusan katanya? Kegilaan macam apa lagi ini? Aku sudah cukup gila memikirkan semua omong kosong ini, lalu kenapa masih juga belum berakhir?

Mungkin dia berpikir aku akan sangat senang mendengar perasaanku terbalaskan, mungkin dia juga mengatakan itu karena terbawa situasi belaka, tapi tetap saja keduanya terasa menyakitkan dan rasa sakit bukanlah hal yang menyenangkan.

"Kumohon…" aku memegang erat tangannya yang terbungkus sarung tangan biru polkadot. Menatapnya dengan seluruh keberanianku, " Jangan buat aku lebih menderita lagi…"

"A… apa?" dia kebingungan, dan untuk sesaat, senyuman itu benar-benar terlepas darinya. Tapi kurasa semua ini percuma, dia tak akan pergi, dan aku tak akan mampu untuk tega mengusirnya dengan paksa.

Jadi, aku segera berdiri dengan ribuan kutukan yang kutujukan pada diriku sendiri. Aku meninggalkannya di sana bahkan meski suara Lusi terdengar berkali-kali mencegahku. Kamarku adalah satu-satunya tempat yang tak akan pernah ia coba masuki, aku merasa aman berada di sini. Kukunci pintu yang terbuat dari kayu mahoni tua itu, dan kurebahkan diriku pada ranjang lusuh milikku. Kutukan itu masih jelas mengalir, dan masih tertuju pada diriku.

***

01 APRIL 2021

Beberapa penerbangan terpaksa dibatalkan akibat cuaca dan angin yang tidak bersahabat, tapi seakan menjawab doa ibuku, entah kenapa jadwal penerbanganku masih aktif saat ini.." Cepatlah sampai, adikmu sudah tak sabar bertemu denganmu…" itu kata terakhir ibuku tadi sebelum aku menonaktifkan ponsel karena alasan keselamatan. Kurasa memang benar kalau sebuah kata adalah doa.

Tak terasa 5 tahun adalah waktu yang sangat singkat, padahal dulu waktu aku menunggu giliran antri di tukang cukur yang hanya 11 menit, itu adalah waktu yang sangat lama, tapi ternyata 5 tahun tidak lebih lama dibanding 11 menit pada waktu itu, entah rumus matematika apa yang kupakai, tapi itulah kenyataannya.

Mungkin juga ini bukan tentang rumus matematika, tapi ini adalah tentang fakta kehidupan di mana cinta merupakan salah satu hal yang sangat durhaka kepada aliran waktu. Ah, suatu saat, jika aku mengantri untuk cukur lagi, mungkin aku juga harus mencintai tukang cukur itu sebelumnya, agar waktu mengantri tak akan terasa sangat lama bagiku. Konyol.

Lima tahun lalu, kota ini kujejak pertama kali bersama ayah yang harus melakukan kegiatan bisnis di tanah kelahirannya ini. Aku datang dengan wajah kecut menganggap tak akan ada hal menarik yang akan kutemukan dari kota ini, tidak seperti negara adidaya tempatku berasal. Tapi sayangnya lambat laun aku mendapati kalau ternyata dugaanku salah, semua gara-gara Lusi dan senyumannya, gara-gara Lusi dan keceriaannya, pokoknya gara-gara nama itu.

Ah, waktu pertama bertemu dengannya, usiaku 12 tahun, dan dia berada di usia yang sama denganku. Aku tidak akan pernah melupakan salam perkenalan darinya yang membuatku sadar kalau ternyata aku telah terikat cinta padanya saat pertama kali kita bertemu. Rambutnya yang pendek sebahu itu tidak terlihat pas dengan pita rambut berwarna kuning strip emas yang ia kenakan, fashion adalah hal mencolok di tempat asalku sebelumnya, jadi aku mengomentari penampilannya secara objektif.

"Terimakasih, tapi aku tidak memikirkannya…" jawabnya waktu itu, senyumannya bahkan masih lekat sampai saat ini, tak mampu lepas bagaimana pun kucoba menariknya agar lepas. Lalu, bagian diriku pun sangat tertarik untuk mengikat sebuah janji tentang senyum itu, sebuah janji yang menyatakan bahwa aku tak boleh meninggalkannya sendiri saat ia bersedih.

Tapi bagaimanapun, janji itu tetap akan kuingkari melaLusi kepergianku kembali ke negara asalku di mana ibu telah menungguku. Andaikan ayahku masih punya kesempatan lebih lama lagi di dunia ini, mungkin kesempatanku bersama Lusi juga akan semakin lama, aku benar-benar tak bisa melawan takdir, karena meskipun aku melawannya, aku tak akan pernah memenangkannya. Dan memang itulah takdir.

Aku merahasiakan kepergianku ini darinya untuk membuatnya tidak semakin terluka dan bersedih, hanya ini yang bisa kulakukan untuk tidak lebih mengingkari janjiku itu. Aku juga sudah menyuruhnya untuk melupakanku, melepaskanku, dan juga tak lagi memikirkanku. Jadi, mungkin aku saja yang menjadi seseorang paling menderita atas kepergianku ini karena kehilangannya.

Benar, semua yang kulakukan sudah benar, yang harus kulakukan setelah ini hanya menunggu waktu untuk pergi jauh darinya membawa semua luka ini.

"Hai, apa kabar?" sapa seseorang dengan ramah dari sisi kananku. Aku hampir kaget hingga lamunanku pecah seketika, tapi aku lebih terkagetkan lagi setelah tahu kalau sapaan itu adalah dari…

"Lusi?" bagai mana dia bisa tahu aku akan melakukan penerbangan pada hari ini? Tidak, jangan sekarang… jangan sekarang, kumohon, semoga ini hanyalah salah satu mimpi burukku.

"Apa kau suka pemandangan di tempat ini?" pemandangan katanya? Yang ada di depan kita hanyalah sederetan kursi tunggu dan keramaian lalu lalang orang kan?." Ah, pasti iya… karena itu kan kau berada di tempat ini??? Untuk melihat pemandangan ini…"

Lusi… dia sangat lihai membuatku terpojok dengan sindiran-sindiran halusnya. Aku bahkan tak tahu lagi apa yang harus kuucapkan untuk menjauhkannya dariku saat ini.

"Baiklah, aku mengaku kalah…" aku menghembuskan napas panjang, mencoba melepaskan semua kepasrahanku pada sisa-sisa kejujuran yang masih ada.." Apa yang kau inginkan saat ini?"

"Terimakasih, tapi aku tidak memikirkannya…" lima tahun lalu, persis seperti pada waktu itu, dia sengaja kah? Tapi untuk apa? Lagi pula, senyumnya itu, masih sama bahkan ketika dia tahu aku akan pergi menjauh darinya.." Karena aku hanya ingin berada di samping orang yang kusuka selama mungkin…"

Dan tak tahukah dia kalau kata-kata itu hanya akan semakin membuatku terluka di sana?

"Aku tak sengaja menemukan tiket penerbanganmu saat kemarin ke rumahmu…" dia kembali membuka suara, dan dari suara itu satu persatu pertanyaanku terjawabkan.." Setelah kupikir-pikir, aku juga heran kenapa ibumu tak datang ke pemakaman paman, jadi aku berpikir mungkin…"

"Ibuku mengalami kelumpuhan… dengan kepergian ayah, semua tanggung jawab terlempar padaku." aku memotong kalimat dari Lusi, ternyata aku tak bisa terus-terusan membiarkannya mengucapkan kalimat yang membuatnya memasang senyum yang sendu seperti itu.." Jadi setelah ini aku akan bersamanya untuk merawat ibu dan adikku."

Dan dia tahu artinya itu, kan? Itu artinya aku tak akan pernah kembali ke sini lagi. Dan itu sangat menyakitkan bagiku, andaikan dia juga terikat pada perasaan yang sama padaku dengan intensitas yang juga sama, maka dia pasti bisa merasakan rasa sakit ini.

"Tapi kau pasti akan kembali kan?"

Aku terdiam. Tak ada lagi yang mampu menjawabnya, dan andaikan aku menjawabnya, maka kejujuranlah yang diam. Jadi, aku membiarkan pertanyaan itu mengalir begitu saja tanpa ada yang mampu menjawabnya. Pertanyaan yang menyakitkan… dan sangat sesuai untuk mengukur seberapa tegarnya aku dalam kekacauan yang membuatku gila ini.

Karena, jika ketegaran adalah kekuatan, maka diam adalah senjata untuk penindasan. Pikiranku ngilu saat segalanya mencoba memburu dengan jawaban, tapi alunan merdu kebohongan itu mencegahku menjawabnya, lalu apa? Dia menungguku menjawabnya… cepatlah otak, bekerjalah!

"Kenapa diam? Kau akan pergi mencapai duniamu yang baru setelah ini, tidakkah kau punya kata yang harus kau katakan padaku?"

Pertanyaannya benar-benar membuat hatiku bisu mengucap harapan, tapi, " Hei, seandainya aku punya, bukankah harusnya kau juga sudah tahu itu?"

Aku menautkan pandanganku pada senyum indah miliknya, tapi aku tahu ada sesuatu yang coba ia sembunyikan dari senyuman itu… ia menahannya sedari tadi, dan aku baru saja menyadarinya. Aku bodoh, bukankah harusnya perpisahan ini hanya membawa luka padaku saja? Tapi lihatlah bagai mana Lusi yang kau cintai juga menanggung luka yang besar itu dalam senyumannya.

"Tapi, kau tahu hari apa sekarang kan?" bagaimana pun haruslah aku satu-satunya yang terluka, " Karena itu, aku tidak akan pernah kembali untuk bertemu denganmu lagi…" Aku menyeka air mata yang masih tertahan di kelopak matanya, tapi untuk beberapa alasan yang tidakku tahu mengapa, air mata itu malah mengalir kian derasnya… sama seperti pelukannya yang sekarang menghujamku dengan derasnya.

Jadi, semoga kalimat yang kubenci itu hanya akan menjadi sebuah kebohongan. Agar suatu saat nanti, kita memang diperkenankan untuk bersama kembali dalam simpul takdir yang tak sesuatu pun akan mampu melepaskannya.

*end

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman?

Dark Path

Andai saja aku tau