Cewek itu berlari kesana-kemari di dalam atrium pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Ia tampak panik. Wajahnya pucat. Matanya basah, genangan air di kelopaknya siap tumpah kapan saja. Awalnya Andi tak begitu peduli dengan cewek tersebut. Namun lama-lama gelagatnya agak ganjil —mencurigakan— karena kerap kali lehernya berputar, seperti sedang mencari sesuatu. Tapi pria yang mengekornya lebih membuat Andi merasa tidak nyaman, pandangannya tertuju pada telepon seluler digenggaman dan sesekali menengok ke arah cewek itu. Merasa tingkat ke-kepo-annya mulai meresahkan, ia bangkit, lalu berjalan —membayangi mereka, seperti seorang stalker. Mendadak gerakan cewek itu terhenti dan memandang nanar, menunggui lelaki di belakangnya yang berjalan bak peragawati di atas catwalk. “Pak, bagaimana kalau tas saya nggak ketemu?” kata cewek itu. Nada suaranya terdengar putus asa. “Ya, mau bagaimana lagi, Mbak. Kami tak bisa membantu lebih. Mungkin orang itu sudah kabur.” tukas si Pria...
Komentar
Posting Komentar