Rasa Ini

Sebenarnya apa sih makna dari kata suka? Cinta? Sayang? Sudah berkali-kali kuputar otak, siapa tahu ada ingatan yang terselip mengenai tiga kata itu. Tapi tetap saja, aku tidak tahu apa makna yang sesungguhnya.

Dan sekarang aku terjebak dengan tiga kata itu. Bahkan lebih parah lagi, kenapa? Karena aku menyukai orang yang sudah punya kekasih, apakah itu tidak gila? Dan sekarang aku sedang bersamanya, duduk berdua di taman.

“Aku sungguh merasa kesepian. Sudah seminggu ini dia pergi meninggalkanku.” Tampak wajahnya yang 
murung. Dia? Maksudmu Revi?

“Memangnya kenapa dia pergi?” Aku berpura-pura simpati kepadanya, padahal dalam hati aku enggan mencampuri urusan mereka berdua.

“Entahlah, dia mengatakan kalau dia tidak tahan dengan semua ini. Dia menuduhku selingkuh tanpa bukti. Aku tidak tahu kenapa dia mengatakan hal itu, padahal aku tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkannya kepadaku.” Aldo, lelaki yang sedang duduk di ayunan di sebelahku ini menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.

“Apakah kau sudah berusaha menjelaskan kepadanya?”

“Aku sudah menjelaskan, tapi kau tahu sendiri kan jika dia itu keras kepala?” Kenapa kau tahu jika dia keras kepala tapi kau masih bersamanya?

“Ya mungkin kau harus lebih bersabar.” Hanya itulah kata-kata yang bisa kuucapkan.
Akhir-akhir ini aku sering menghabiskan waktu bersamanya. Hal yang dulu tidak pernah terjadi. Ternyata kepergian Revi membuatku lebih beruntung. Kami sering berduaan di taman, duduk di ayunan dengan suasana sore hari yang sejuk.

“Apakah kau pernah mencintai seseorang yang tidak mencintaimu?” Deg… Kenapa Aldo bertanya seperti itu? Apakah dia menyadarinya?

“Memangnya kenapa?”

“Aku hanya ingin tahu saja. Apakah tidak boleh?”

“Boleh saja. Aku pernah mengalaminya. Aku menyukai seseorang, malah mungkin aku menyayanginya. Tapi dia sudah punya kekasih. Aku tidak tahu bagaimana perasaanya kepadaku. Apakah dia membenciku atau bagaimana. Sampai sekarang aku masih memendam rasa ini.” Seketika ada perasaan seperti ditusuk-tusuk, perih, bagaimana tidak? Aku mengatakannya secara langsung kepada orang yang aku sukai tanpa dia ketahui.

“Pasti sakit ya? Kenapa kau tidak mengatakan kepadanya?” Sungguh, perih itu semakin terasa. Kenapa kau menanyakannya?

“Kau gila? Mana mungkin aku mengatakannya. Dia sudah punya kekasih. Aku sudah beruntung bisa 
berteman dengannya. Aku takut jika dia malah menjauhiku.”

“Benar juga ya, bagus kalau dia mau menghargai perasaanmu, kalau tidak? Pasti hatimu semakin terluka.” Dan sekarang pun hatiku semakin terluka. Sebenarnya siapa yang bodoh? Aku atau Aldo? Mungkin aku memang bodoh, karena aku sudah bercerita kepada orang yang menjadi tokoh utama dalam ceritaku. Mungkin Aldo juga bodoh, kenapa dia tidak merasa? Apakah memang lelaki tidak peka perasaannya?

“Menurutmu, apakah aku harus menunggu hingga Revi kembali?” Aku menghela nafas, untuk apa dia menanyakannya?

“Memangnya bagaimana perasaanmu kepadanya?”

“Aku menyayanginya, tapi aku sudah jenuh menunggu kepastian darinya.” Kutatap wajah sampingnya, ada perasaan sedih, kenapa aku tidak bisa memilikinya? Jika memang dia bukan untuku, biarkanlah dia tahu isi hatiku.

“Kalau aku boleh tahu, siapa orang itu?” Dan pertanyaan yang tidak kuharapkan terlontar juga. Aku harus menjawab apa?

“Hey! Kenapa diam? Jawab dong! Aku penasaran siapa sih orang yang kau, ehemm sayangi,” Kata Aldo menekankan pada kata ‘sayangi’.

“Aku tidak akan mengatakannya kepadamu.” Perlahan aku turun dari ayunan yang masih bergoyang ini. Aku berjalan pergi, namun tangannya menarik tanganku.

“Apakah orang itu aku?” Tanyanya. Matanya menatap tajam ke mataku, serasa menusuk jantungku.

“Hah? Memangnya mengapa aku harus menyukaimu? Tidak penting!” Aku berusaha menanggapinya 
dengan santai, mungkin penyakit jailnya kumat dan aku tidak ingin terjebak.

“Aku serius, aku tidak sedang menjebakmu atau apa. Aku tahu dari tatapan matamu.” Apa maksudnya?

“Apaan sih, Do? Sudahlah, aku mau pulang.” Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya.

“Lihat aku! Lihat aku Karin! Kau tidak usah membohongi perasaanmu lagi. Jujurlah padaku, aku tahu tatapanmu itu tatapan penuh luka. Katakan saja Karin, katakan.” Aku mencoba memandang di kejauhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Lama aku terdiam, ada sesuatu yang hangat mengalir di pipiku.

“Ternyata dugaanku benar. Maaf selama ini sudah membuatmu sakit. Jika aku tahu sedari dulu, pasti tidak akan jadi seperti ini. Sekali lagi maaf.” Aldo melepaskan tanganku, mungkin diamku sudah menjawab pertanyaanya.

“Tidak, kau tidak bersalah. Mungkin memang sudah takdirku seperti ini.”

“Jika kau ingin aku menjauhi Revi, akan aku lakukan.” Aku tersentak mendengar kata-katanya, bukan ini
yang kuinginkan.

“Jangan! Jangan buat dia bersedih, perbaikilah hubungan kalian. Aku sudah senang karena kau mengetahui perasaanku. Kuharap kau akan tetap menerimaku sebagai teman. Aku tidak ingin menjadi perusak hubungan kalian.”

“Tapi aku tidak ingin membuat orang lain menderita. Percuma aku bahagia bersama Revi, tapi ada seseorang yang bersedih.” Apa maksudnya? Aldo memang terlalu polos atau bagaimana sih?

“Jika kau menjauhi Revi, justru itu juga akan membuatnya sakit. Itu sama saja, Do. Aku sudah senang berteman denganmu. Bukankah setiap manusia seperti itu? Dia mencintai seseorang dan tanpa disadarinya ada orang di belakangnya yang selalu menunggu senyum darinya?”

“Aldo…” Seseorang dari belakangnya memanggil, aku seperti mengenal suara itu. Aldo membalikan
badannya, kini tampaklah Revi berdiri menunduk.

“Maaf, aku sudah berprasangka buruk kepadamu. Ternyata kamu memang benar,” Katanya seraya meraih tangan Aldo dan memberikan secarik kertas yang aku tidak tahu isinya.

“Ayo, pergilah bersamanya. Jangan pikirkan aku. Aku tidak terluka, aku tidak apa-apa,” Aku berbisik kepadanya saat Aldo tidak bergeming. Sejenak Aldo menatapku, seakan bertanya, ‘Benarkah?’. Kubalas tatapan itu dengan senyuman dan anggukan. Kini mereka berdua pergi meninggalkanku. Masih ada sedikit perih di hati ini. Aku membalikan badan dan terkejut begitu melihat orang yang berdiri tepat di depanku, sepertinya aku pernah melihatnya.

“Kamu siapa?” Aku bertanya kepadanya, dia hanya tersenyum, lalu jawabannya sungguh membuatku terkejut, “aku adalah orang di belakangmu yang menantikan senyum darimu.”

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teman?

Dark Path

Andai saja aku tau