Help Me!
Di telepon umum terlihat satu atau dua orang antri di luar, ada pula yang mengambil sesuatu dari vending machine sebagai bekal untuk pulang, dan juga ada yang berjalan beriringan saling bertukar cerita satu sama lain. Seorang penjual balon pun tak luput dari ekosistem kota, walaupun eksistensinya kadang dianggap tak nyata. Ia berteduh di salah satu halte dekat taman bermain tempatnya bekerja. Namanya Ren, dua puluh tahun. Untung saja hari ini balon-balon gasnya terjual semua, jadi ia hanya membawa sisa gas di tabung nitrogen jika pulang nanti.
Berjualan balon di jaman ini memang bukan sebuah pekerjaan pasti, tapi lapangan pekerjaan pun sulit didapat sehingga tak menyisakan opsi selain berusaha semampu yang ia bisa. Melihat anak-anak tersenyum menerima balonnya sudah cukup membuat hari dan hatinya berwarna.
Salah satu pelanggan setianya adalah seorang bocah cilik bernama eris. Ren tak tahu dimana rumahnya, atau seperti apa kedua orang tuanya, karena bocah itu selalu datang sendiri menghampirinya, membeli balon gas sambil tertawa-tawa, mengatakan ingin terbang menggunakan balon-balon itu seperti di film animasi yang ia tonton di televisi.
Ia sedikit bandel ―ralat, sangat bandel. Ketika Ren memintanya segera pulang, ia malah menemani Ren berjualan hingga dagangannya habis laris manis hingga sore hari di akhir pekan. Mungkin, ini merupakan salah satu berkah juga karena Eris adalah anak yang supel, mudah menggaet hati orang-orang (terutama anak-anak) agar membeli balon Ren.
Ren tak pernah memberinya upah pasti, tapi biasanya ia akan membelikan sebuah lollipop besar untuk bocah itu sebagai imbalan. Eris toh senang-senang saja, menggigiti permen itu sampai habis, katanya kalau dijilat atau diemut tidak enak. Ren tertawa saja mendengarnya, cara menikmati tiap individu memang berbeda dan ia tak bisa memaksanya.
Bocah itu sangat berisik, cocok menemani hari-hari Ren yang kurang bumbu dan sepi. Ia akan bercerita apapun mengenai para pelanggan, paling sering sih komentar soal wajah. Ada yang parasnya galak, ok cool, atau malu-malu, pokoknya campur aduk.
Terkadang, bocah itu juga sedikit manja, meminta digendong oleh Ren. Yang lebih tua tak menolak dan dengan senang hati mengangkat tubuh kecilnya. Ya, tapi ini hanya kadang-kadang saja, di saat kakinya sudah merasa lelah.
Tapi, bodohnya Ren yang tak pernah menanyakan apapun soal keluarganya, hingga suatu hari ada beberapa orang berjas putih mencarinya di taman bermain. Eris yang biasanya cerewet mendadak diam, bersembunyi di balik kaki kering Ren. Ren hanya menatapnya aneh, hingga mereka membawa bocah itu. Salah satu dari mereka berbicara dengan Ren, menjelaskan kondisi Dwi Eris yang sebenarnya. Eris sering kabur dari rumah sakit tanpa sepengetahuan dokter, padahal itu sangat berbahaya sekali, karena dia sedang dalam masa rawat jalan akibat penyakitnya ―Ren bahkan baru tahu apa itu ataksia.
"Len, tolong aku!" Eris mencoba meronta dari mereka yang berhasil menangkapnya. Ren tak mengatakan apapun, bahkan sekedar mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Salah seorang dari mereka memberi kartu namanya, mempersilahkan jika Ren ingin menjenguk bocah itu di rumah sakit.
(Tapi ia tak pernah melakukannya)
Hujan perlahan mereda. Ren memilih untuk segera pergi. Beranjak, ia menenteng tabung yang masih tersisa sedikit nitrogennya. Ia berjalan, melewati rintik-rintik hujan. Setengah tahun berlalu sejak saat itu, Ren tak pernah mendengar kabar apapun dari Eris ―ia takut, takut bila ia muncul, Eris akan lebih keras kepala lagi.
Hari ini Ren baru memantapkan hatinya untuk berkunjung ke rumah sakit dimana Eris berada berdasar kartu nama itu. Mungkin sekedar menengok sebentar tidak apa-apa, asal Eris tidak melihatnya. Bagaimanapun, ia merindukannya.
Sesampainya di rumah sakit, Ren bertanya di bagian administrasi. Petugas yang berjaga memberitahukan tak pernah ada pasien yang bernama Dwi Eris dalam riwayatnya. Ren tentu saja bingung, ia lalu menunjukkan kartu nama yang ia terima. Petugas itu bilang, bahwa kartu nama itu palsu.
Ren linglung.
Lalu, siapa yang membawa Eris saat itu?
Len, tolong aku...!"
Suara itu menggema di kepalanya, Ren mengingatnya dengan jelas. Segera ia berbalik arah, membuang tabungnya, dan berlari menuju kantor polisi terdekat. Usahanya tak sia-sia, pihak kepolisian juga tengah mencari seorang anak bernama Dwi Eris yang menghilang sekitar setengah tahun lalu. Kedua orang tuanya sudah tiada, dan kakeknya sudah lelah mencari atau bertanya pada orang-orang, hingga memeriksa taman bermain yang katanya kerap dikunjungi Eris. Keterangan Ren tentu sangat membantu bagi polisi.
Ren tak dapat menahan rasa bersalahnya, merapal kedua tangannya erat di sisi tubuhnya.
Seharusnya ia percaya pada Eris.
Selepas dari sana, Ren mendapati langit tak lagi mendung. Hari berganti cerah walau menyisakan aroma petrichor yang memabukkan. Ia menengadah, menatap luasnya langit.
Pilihan ada di tangannya sekarang.
